Bekerja = beribadah?

Oleh: Arvan Pradiansyah
Tulisan saya di harian ini bulan lalu (Bekerja untuk Hidup atau Hidup Untuk Bekerja?) menuai banyak tanggapan. Salah satunya mengatakan bahwa tulisan tersebut sangat bagus dan indah, tetapi bahwa tujuan hidup kita sesungguhnya adalah beribadah bukannya bekerja.

Bukankah dalam agama apa pun selalu dikatakan bahwa sesungguhnya tujuan hidup kita adalah untuk beribadah dan menyembah Tuhan?


Pertanyaan tersebut menurut saya sangat bagus dan dapat mewakili pikiran banyak orang. Kalau saya berani menyatakan bahwa kita sejatinya hidup untuk bekerja, apakah dengan kata lain saya mengatakan bahwa tujuan hidup kita bukanlah untuk beribadah kepada Tuhan?

Sesungguhnya tidaklah demikian. Saya tidak pernah membedakan antara bekerja dan beribadah, bahkan saya sudah tidak tahu lagi apakah ketika menulis artikel ini saya sedang bekerja atau sedang beribadah.

Bagi saya ketika saya bekerja saya sesungguhnya sedang beribadah, dan ketika beribadah saya sesungguhnya juga sedang bekerja.

Anda bingung dengan pernyataan di atas? Bagus kalau demikian. Yang ingin saya sampaikan kepada Anda adalah ketika kita menganggap bekerja tidak sama dengan beribadah, kita sesungguhnya tengah kehilangan roh dari pekerjaan kita itu.

Banyak orang yang menempatkan ibadah di satu kutub dan pekerjaan di kutub yang lain. Orang yang seperti ini sesungguhnya belum memahami hakikat pekerjaan yang sesungguhnya, bahkan belum memahami hakikat hidup yang sesungguhnya.

Mengapa banyak orang yang tidak bisa melihat bahwa bekerja sejatinya adalah beribadah? Menurut saya ada empat pemahaman yang salah mengenai arti beribadah itu sendiri.

Pertama, banyak orang yang mengartikan ibadah secara sempit. Ibadah adalah sesuatu yang bersifat ritual seperti salat, berpuasa, berzakat, dan naik haji (bagi mereka yang beragama Islam), berdoa, bersembahyang, pergi ke gereja, pura, dan wihara. Pengertian seperti ini tentu saja tidak salah, tetapi kurang lengkap.

Beribadah sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih luas daripada itu. Beribadah adalah melakukan semua tindakan kebaikan atas nama Tuhan. Bukankah tindakan kebaikan itulah yang kita sebut dengan bekerja?

Bahkan, bukankah jumlah waktu yang kita luangkan untuk bekerja sesungguhnya jauh lebih besar daripada waktu yang kita gunakan untuk berdoa dan bersembahyang?

Kedua, beribadah sering kali dikaitkan hanya dengan hubungan vertikal yaitu hubungan seseorang dengan Tuhannya. Padahal, bukankah hakikat hidup ini adalah untuk berhubungan baik dengan setiap manusia?

Bukankah manusia diciptakan untuk saling membantu? Bukankah semua tindakan yang kita lakukan untuk membantu orang lain merupakan perwujudan dari ketundukan dan pelayanan kita kepada Tuhan itu sendiri? Bukankah melayani orang lain sesungguhnya adalah perintah Tuhan?

Ketiga, ketika berbicara mengenai ibadah, orang sering kali hanya mengaitkannya dengan tempat ibadah seperti masjid, gereja, pura, dan wihara. Beribadah kita lakukan di tempat-tempat suci, tetapi bagaimana dengan pekerjaan? Bukankah pekerjaan kita lakukan di kantor?

Paradigma yang salah inilah yang sering kali membuat orang ingat kepada Tuhan hanya di tempat-tempat ibadah, dan begitu mereka memasuki tempat kerja maka perilaku mereka akan berubah.

Ketika di tempat ibadah mereka begitu khusyuk, tunduk dan berserah kepada Tuhan. Tempat ibadah dipahami sebagai tempat suci, sementara pekerjaan adalah sesuatu yang sekuler.

Ibadah dalam tindakan

Di dalam sesuatu yang sekuler tidak ada Tuhan di dalamnya. Inilah yang membuat banyak orang yang taat beragama (dalam pengertian melakukan ritual peribadatan), tetapi bisa menjadi seorang pekerja yang buruk, yang korupsi, yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak mau melayani orang lain.

Keempat, banyak orang yang merasa bahwa bekerja itu bukanlah beribadah karena ketika bekerja mereka dibayar, sementara ketika beribadah tidak demikian. Inilah yang semakin memperbesar jurang antara bekerja dan beribadah.

Padahal, kalau direnungkan lebih mendalam, kalau tidak dibayar saja kita mau melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh, apalagi kalau dibayar! Bukankah seharusnya lebih sungguh-sungguh lagi dan lebih tulus lagi?

Lagi pula apa salahnya dengan dibayar? Apakah dengan dibayar itu membuat pekerjaan Anda menjadi tercemari dan tidak suci lagi? Tentu saja tidak. Setiap pekerjaan apakah itu dibayar atau tidak akan selalu bernuansa ibadah bila pekerjaan itu kita lakukan secara tulus untuk membantu orang lain.

Pekerjaan akan selalu bernuansa ibadah kalau kita tempatkan dalam kerangka menjalankan perintah Tuhan. Pekerjaan akan selalu menjadi ibadah kalau kita menghasilkan sesuatu yang bernilai (valuable) bagi orang lain melebihi uang yang mereka bayarkan kepada kita.

Ketika kita tidak mampu lagi membedakan antara beribadah dan bekerja sesungguhnya kita telah berubah dari seorang manusia yang sekuler menjadi manusia yang spiritual.

Ketika kita telah mencapai tahap ini kita akan selalu hidup dalam kebahagiaan (happiness). Kita akan selalu merasakan hidup yang bermakna (meaningful) dan kita akan selalu merasa dekat dengan Tuhan.

Orang yang dekat dengan Tuhan tentu saja akan senantiasa bahagia dan memiliki energi yang berlimpah. Kita juga akan menyadari bahwa inilah maksud Tuhan menciptakan kita di dunia ini.

Tuhan menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya yang harus kita manifestasikan dalam melayani dan bekerja untuk kebahagiaan orang lain.

Karena itu bagi orang yang spiritual semacam ini, tempat kerja sama sucinya dengan tempat ibadah. Pekerjaan sama sucinya dengan menyembah Tuhan. Bahkan, ujung dari semua tindakan yang ia lakukan bukanlah hanya terbatas pada customer satisfaction melainkan lebih jauh dari itu. Ujung dari semua tindakan kita adalah God Satisfaction.

Posted by INFO GeRATIS on 10.07. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0

0 comments for Bekerja = beribadah?

Leave comment

GeRATIS Info meledakkan Penghasilan Anda:

Segera cek email Anda untuk mengaktifkan


Frans Ana

Phone : +6221 95800002


FOLLOW US :

2010 INFO GeRATIS. All Rights Reserved. - Written by : Frans Firdaus