Harga CPO Berpotensi ke Level 4.000 Ringgit per Ton


Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) berpotensi mencapai level 4.000 ringgit per ton hingga akhir tahun. Apelles Kawangian, Kepala Divisi Pengembangan Bisnis dan Produk PT Monex Investindo Futures, broker perdagangan komoditas, mengatakan dalam jangka panjang CPO merupakan salah satu komoditas yang memiliki potensi penguatan positif.

Pada perdagangan Senin, harga CPO untuk pertama kalinya mencapai level tertinggi dalam satu tahun terakhir. Harga CPO untuk kontrak pengiriman Juni di Bursa Berjangka Malaysia, seperti dikutip Bloomberg, naik 2,7% ke level 3.527 ringgit per ton atau US$ 1.154 per ton atau level tertinggi sejak 10 Maret 2011. Harga kontrak CPO sepanjang kuartal I mencatat kenaikan 8,1%.

Apelles menjelaskan salah satu pendorong kenaikan harga CPO adalah berkurangnya sentimen negatif terkait perlambatan ekonomi China. Pekan lalu, harga CPO mencapai level terendah dalam sepekan karena pasar khawatir perlambatan ekonomi di China akan menyebabkan permintaan CPO menurun. Apalagi, China merupakan negara importir minyak nabati terbesar di dunia.

Dia juga menjelaskan pendorong kenaikan harga CPO kemarin adalah menguatnya dolar Amerika Serikat terhadap mata uang lain. Penguatan dolar Amerika Serikat mendorong kenaikan harga minyak mentah dan harga komoditas lain, termasuk CPO. “Penguatan dolar Amerika Serikat memiliki kecenderungan positif terhadap harga CPO,” ujar dia.

Apelles menambahkan CPO merupakan salah satu komoditas penting di pasar global karena memiliki dua fungsi, untuk konsumsi dan bahan baku energi alternatif. Dia memperkirakan harga CPO sampai akhir tahun akan bergerak berfluktuasi dengan kisaran pergerakan 3.400 ringgit-4.000 ringgit per ton.

Di pasar global sendiri, kenaikan harga CPO didorong kekhawatiran penurunan suplai minyak masak karena berkurangnya lahan kedelai di Amerika Serikat. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), seperti dikutip Bloomberg, Selasa melaporkan petani akan menanam 73.902 juta hektare tahun ini, turun 1,4% dari 2011 dan menjadi yang terendah dalam lima tahun terakhir.

Luas lahan tanaman kedelai ini juga lebih rendah 1,5 juta hektare di bawah rata-rata perkiraan analis dan hampir 1,1 juta lebih rendah dari tahun lalu. USDA juga mengatakan stok jagung per 1 Maret 2012 menjadi yang terendah sejak 2004.

Ivy Ng, analis CIMB Group Holdings Bhd, mengatakan berkurangnya lahan penanaman kedelai di Amerika Serikat karena petani lebih memilih menanam jagung. Kekhawatiran berkurangnya suplai kedelai dan rendahnya stok jagung mendorong harga CPO.

Isa Djohari, anggota Riset dan Pengembangan Produk Bursa Berjangka Jakarta, mengatakan di dalam negeri sejak pemerintah menerapkan kebijakan baru menurunkan bea keluar produk turunan CPO, harga CPO memang cenderung tertinggal oleh harga produk turunannya, seperti olein. Harga produk turunan CPO naik tinggi dan membuat selisih harganya dengan CPO relatif lebar.

Hal itu membuat harga CPO saat ini di mata investor relatif lebih murah dan memiliki potensi untuk naik. “Jadi, kenaikan harga CPO saat ini lebih didorong karena dampak kebijakan bukan karena kenaikan permintaan,” ujar dia. Namun, harga CPO sampai beberapa bulan ke depan memang masih memiliki potensi kenaikan. Hal ini karena kontrak-kontrak yang saat ini aktif di bursa adalah kontrak-kontrak yang serah terima fisiknya akan dilakukan pada sekitar Juli sampai Agustus atau saat bulan puasa dan Lebaran.

Permintaan CPO untuk kebutuhan konsumsi pada periode puasa dan Lebaran dipastikan meningkat dan otomatis mendorong kenaikan harga CPO. Sampai saat itu, pergerakan harga CPO diperkirakan fluktuatif dengan kecenderungan menguat. (IndonesiaFinanceToday.com)

Posted by INFO GeRATIS on 08.28. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0

0 comments for Harga CPO Berpotensi ke Level 4.000 Ringgit per Ton

Leave comment

GeRATIS Info meledakkan Penghasilan Anda:

Segera cek email Anda untuk mengaktifkan


Frans Ana

Phone : +6221 95800002


FOLLOW US :

2010 INFO GeRATIS. All Rights Reserved. - Written by : Frans Firdaus