Boneka Putri, Tampil Memikat Dibalut Pakaian Adat
WiraUsaha 15.58
Tidak banyak orang yang mengenal ragam pakaian adat Indonesia. Siti Kasmirah, adalah sosok yang selain mengenal dengan baik ragam pakaian adat juga peduli untuk melestarikannya lewat bisnis baju barbie. Prospeknya pun secerah warna-warni bajunya Renny Arfiani
Sejak boneka barbie diciptakan pada tahun 1959 silam, pamornya seakan tak pernah padam. Jutaan anak perempuan diseluruh dunia menyukainya. Bagaimana tidak. Daya tarik boneka yang satu ini sungguh dahsyat. Dengan tubuh yang mulus nan ramping serta rambut panjang yang tergerai indah menjadikan boneka ini kian sempurna. Ditambah lagi begitu banyaknya aksesoris yang melekat pada tubuh boneka berparas cantik ini semakin menggemaskan siapapun yang memandang.
Maka tak heran jika banyak anak perempuan yang tertarik memilikinya. Tak cukup satu, mereka bahkan membeli dua hingga tiga boneka sebagai kawan si barbie berikut semua aksesoris seperti baju, sepatu, tas sampai rumah-rumahannya. Aksesoris itulah yang selalu mengalami pembaharuan. Di beberapa negara boneka barbie kerap dipadupadankan dengan tema-tema lokal. Maka muncullah ragam versi boneka barbie dengan tampilan berbagai macam busana. Termasuk di Indonesia, boneka barbie turut disandingkan dengan budaya Indonesia.
Jika sebelumnya boneka barbie hadir dengan tampilan busana muslim kali ini barbie tampil dengan memakai busana adat dari seluruh provinsi di Indonesia. Idenya tercetus dari seorang pengusaha mainan bernama Siti Kasmirah. “Awalnya saya mendapat pesanan dari rekan di luar negeri untuk membuat baju barbie yang khas Indonesia. Lalu terpikirkan untuk membuat dengan tema batik dan selanjutnya berkembang menjadi baju adat seluruh provinsi”, cerita Mirah begitu sapaan ibu dua anak ini.
Baju barbie buatannya memang unik, Mirah membuatnya nampak serupa dengan pakaian adat sesungguhnya. Ia mengunjungi langsung anjungan-anjungan rumah adat di Taman Mini Indonesia khusus untuk melihat model pakaian adat dari 33 provinsi di Indonesia sebagai acuan untuk mendesain baju barbie yang ia namakan Boneka Putri. “Untuk desain saya sering datang ke Taman Mini, disana lengkap sekali panduan tentang adat istiadat Indonesia. Saya tak mau salah mendesain baju karena nanti bisa repot kalau ada pembeli yang komplain soal baju adat”, celotehnya.
Untuk membuat baju-baju barbie tersebut Mirah menggunakan bahan yang sama seperti pakaian adat sesungguhnya. Ia enggan memakai limbah konveksi atau penjahit lantaran motifnya berbeda-beda. “Kalau pakai limbah penjahit jenis kainnya beda-beda. Sementara baju adat biasanya satu motif. Jadi harus pakai kain meteran”, ujar Mirah. Kain songket ia pilih sebagai rok atau bawahan boneka barbie sementara kain brokat digunakan untuk baju kebayanya. Sementara untuk aksesorisnya Mirah memilih berbagai manik-manik yang ia rangkai menjadi satu kesatuan membentuk hiasan yang biasa dipasangkan di kepala atau disematkan disanggul.
Setiap boneka barbie polos yang diimpor dari Cina ia dandani tak ubahnya seperti pengantin wanita yang mengenakan pakaian adat. Untuk setiap provinsi memiliki detail-detail tersendiri. Ada yang dibuat dengan mudah ada pula yang cukup menguras keahlian dalam mendesain baju berikut aksesorisnya. “Untuk pakaian adat yang paling sulit dibuat mengingat detailnya yang sangat rumit adalah pakaian adat dari Sumatera Barat, Lampung dan Palembang lantaran membutuhkan keahlian lebih untuk membuat mahkota atau suntingnya. Dan yang paling simpel adalah pakaian adat Bali”, papar Mirah.
Boneka barbie versi pakaian adat ini ia jual dengan harga Rp50 ribu untuk pembeli eceran. Sedangkan jika pembelian dalam partai besar harganya tentu lebih murah Rp35 ribu/buah. Mirah memutuskan menetapkan dua harga karena pembeli grosiran justru lebih banyak. Ia memiliki toko mainan di pusat penjualan mainan daerah Jakarta Utara yang kerap disambangi oleh mereka yang biasanya hendak menjual kembali (reseller, red). “Karena boneka ini untuk dijual kembali dan pembelinya datang dari berbagai wilayah di Indonesia akhirnya boneka saya bisa dipasarkan ke seluruh Indonesia tanpa berpromosi yang berlebihan”, ucapnya bangga. Memang, cara ini lebih menguntungkan dimana Mirah tak perlu mengeluarkan budget promosi yang terlalu besar.
Setiap bulannya Mirah harus memproduksi baju barbie versi pakaian adat lebih dari 1000 pieces. Itu artinya Mirah juga harus membeli kain meteran dalam jumlah besar. Menurutnya, motif kain yang kerap berubah-ubah membuat dirinya sulit menyusun katalog. “Kalau beli kain songket dan brokat biasanya saya beli hingga ratusan meter untuk di-stok sekian bulan. Sebab jika nanti ingin membeli motif yang sama sudah pasti tidak ada lagi”, ujar Mirah. Namun dirinya tak patah semangat justru dengan beragam motif yang sering berubah-ubah itulah baju buatannya lebih variatif.
Selain itu Mirah juga membuat boneka barbie versi pengantin dimana aksesorisnya lebih detail dan spesifik lagi. Aksesoris tersebut dibuat dari perhiasan imitasi yang biasa dipakai manusia, Mirah tinggal memodifikasi saja agar ukurannya sesuai untuk tubuh boneka barbie. Bahkan untuk hiasan kepalanya ia menggunakan roncean bunga melati yang sama dipakai oleh pengantin Jawa. Bahan bajunya dibuat lebih mewah lagi dan kemasannya tidak menggunakan kotak plastik namun menggunakan kotak kaca.
Biasanya boneka versi pengantin ini dipesan oleh kedutaan besar negara sahabat untuk dijadikan koleksi atau souvenir. Mirah menetapkan harga jual yang cukup tinggi yakni Rp450 ribu untuk sepasang pengantin. “Kalau boneka barbie yang versi sepasang penganting memang lebih mahal dan itu hanya dibuat bila ada pesanan”, lanjut Mirah.
Mirah bisa sedikit berbangga. Pasalnya, selain sukses merintis bisnis ia ikut melestarikan budaya Indonesia. Sebab lewat bisnis pembuatan baju barbie versi pakaian adat Indonesia ini, ia dipercaya beberapa kedutaan besar negara untuk membuat produk yang bisa mewakili Indonesia di dunia internasional.
Dan sebagai pelengkap Mirah juga membuat rumah-rumahan untuk si barbie tinggal. Ukurannya bisa disesuaikan dengan budget yang dimiliki. Rumah barbie yang berukuran besar dihargai sekitar Rp2,5 juta sementara yang terkecil Rp250 ribu.
Redaksi : Pengusahaindonesia.co.id





barangkali ada yang perlu kain bahan boneka bisa hubungi 08562159949 nylex rasfur velboa yelvo snail