Manisnya Potensi Bisnis Digital

Entrepreneur di industri digital Indonesia semakin menjamur. Investor-investor bisnis digital pun bermunculan menyokong bisnis digital ini. Mereka ingin mengantisipasi prospektifnya bisnis digital di Indonesia ke depan.

Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berkembang dengan sangat pesat. Perkembangan ini menciptakan berbagai peluang ekonomi baru sekaligus menciptakan efisiensi pada perekonomian. Bisnis digital pun bermunculan, dengan potensinya yang besar seiring dengan perkembangan TIK. Hal ini sesuai dengan perkembangan paradigma ekonomi yang mulai bergeser dari ekonomi berbasis sumber daya menjadi ekonomi berbasis knowledge.


Pasar Indonesia pun turut mendukung berkembangnya bisnis digital. Pendapatan per kapita Indonesia yang kini mencapai US$3.542,9 membuat jumlah masyarakat kelas menengah terus bertambah. Alhasil, konsumsi produk berbasis teknologi pun terus meningkat.

Statistik menunjukkan pengguna layanan data saat ini mencapai 62 juta orang, angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi 167 juta pengguna pada 2016 dengan 109 juta pengguna layanan data menggunakan telepon pintar, dan sekitar 22 juta pengguna menggunakan komputer tablet maupun personal computer (PC). Sementara itu pengguna internet diperkirakan akan meningkat dari 40 juta orang pada 2011 menjadi 175 juta orang pada 2016.

Dunia online memang tidak hanya sekadar menghasilkan statistik Indonesia sebagai salah satu pengguna media sosial terbesar dunia. Dari 40 juta pengguna internet di Indonesia telah lahir pengusaha-pengusaha digital yang akan menjadi penggerak ekonomi Indonesia di masa yang akan datang.

Satu kelemahan yang berpotensi menghambat perkembangan industri digital adalah infrastruktur yang masih sangat belum siap. Namun, menurut Direktur GDP Venture Martin Basuki Hartono, industri digital masih bisa maju meskipun infrastrukturnya tertinggal. Terlebih lagi pasar di Indonesia masih menawarkan potensi yang besar bagi sebuah bisnis untuk berkembang, tidak seperti pasar pada mature market yang stagnan. Selain itu, infrastruktur merupakan salah satu dimensi industri digital yang juga diminati oleh investor, selain konten, media dan e-commerce.

Pembiayaan Malaikat

Pada dasarnya pebisnis startup digital di Indonesia penuh dengan kreativitas dan ide-ide yang sangat menarik. Ide inilah yang menarik investor untuk menginvestasikan dananya. Terbukti, beberapa bisnis startup dengan ide yang kreatif telah diakuisisi oleh perusahaan internet raksasa asing seperti Google, Yahoo!, Groupon dengan nilai yang tidak main-main. Namun, tidak sedikit pula investor lokal yang berminat pada industri ini. Beberapa di antaranya adalah East Ventures, Ideosource, Investidea, Raja Capital, Nusantara Incubation Fund, Merah Putih Inc., GDP Venture, Batavia Incubator, Project Eden, dan Bandung Ventures.

Dalam pengembangannya, suatu bisnis startup digital akan melewati beberapa fase perkembangan. Tiap fase perkembangan memiliki karakteristik yang berbeda yang akan menentukan sumber dan besarnya pendanaan yang digunakan dalam mengembangkan startup bisnis digital.
Fase awal atau bibit, bisnis startup memiliki risiko kegagalan yang sangat tinggi sehingga pada fase ini pendanaan akan berasal dari kerabat dekat. Micro finance juga bisa menjadi sumber pembiayaan pada fase bibit, namun peran micro finance lebih besar ketika bisnis startup telah berkembang pada fase berikutnya.

Pada bisnis startup digital, ide memang syarat mutlak untuk mendirikan bisnis startup digital. Namun, menurut inisiator komite startup lokal Aulia Halimatusadia, banyak sekali pebisnis startup lokal yang melupakan pentingnya keberlanjutan bisnisnya. “Kebanyakan mereka, apalagi startup lokal itu tahunya hanya membuat. Mereka memiliki ide, kelihatannya brilian, membuat dan selesai. Padahal, yang paling penting itu setelahnya. Promoting, marketing, dan sebagainya,” jelasnya.

Disinilah letak kelemahan bisnis startup lokal. Mereka biasanya tidak memiliki skill dalam merumuskan strategi bisnis sehingga tidak tahu cara menjual bisnis mereka dengan benar. Namun, jika mereka bisa mengembangkan bisnisnya hingga ke fase start up, mereka bisa menarik minat investor untuk menanamkan bisnisnya.

Sebenarnya investor telah melihat potensi industri digital di Indonesia dan mereka siap menyalurkan dana kepada calon entrepreneur digital. Terdapat dua jenis investor yang siap memberikan dana sekaligus pembimbingan agar ide yang dimiliki oleh calon entrepreneur digital dapat dikembangkan menjadi bisnis yang besar hingga mencapai fase dimana bisnis tersebut siap untuk go public, yakni Venture Capital dan investor malaikat (angel investor).

Investor lokal yang juga menyadari besarnya potensi bisnis digital ini dapat dilihat dari sejumlah perusahaan investor dan inkubasi bisnis yang umumnya berbentuk venture capital. Sebut saja Nusantara Incubation Fund (NIF) milik keluarga Bakrie, GDP Venture dari Grup Djarum yang kini bekerjasama dengan situs komunitas terbesar di Indonesia Kaskus.us, Investidea, Bandung Ventures, Raja Capital, Ideosource, East Ventures, dan Project Eden. Sementara itu, ada juga venture capital asing yang akhir-akhir ini cukup giat menaungi beberapa startup bisnis digital lokal, seperti Cyberagents Ventures Inc. yang berasal dari Jepang.

Pertanyaannya adalah, apa yang akan didapatkan oleh para pemodal ventura dengan menginvestasikan dananya pada bisnis startup? Mengingat bisnis startup merupakan bentuk bisnis yang memiliki risiko yang tinggi, dengan tingkat risiko yang tinggi tentunya investor juga akan mengharapkan return yang tinggi.



Redaksi : Warta Ekonomi No.06/2012 bag-1
wartaekonomi.co.id

Posted by INFO GeRATIS on 13.48. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0

0 comments for Manisnya Potensi Bisnis Digital

Leave comment

GeRATIS Info meledakkan Penghasilan Anda:

Segera cek email Anda untuk mengaktifkan


Frans Ana

Phone : +6221 95800002


FOLLOW US :

2010 INFO GeRATIS. All Rights Reserved. - Written by : Frans Firdaus