Sari Perto, Ciptakan Mie Lebih Bergizi Daripada Nasi
WiraUsaha 10.20
Tak perlu khawatir nilai gizi berkurang jika ingin mengganti posisi nasi sebagai sumber karbohidrat. Nyatanya mie juga bisa memenuhi kecukupan gizi. Salah satunya mie sehat berbahan dasar sayur. Tertarik mencoba?
Sekalipun mie bukan makanan pokok, tak ada salahnya mencoba berbagai macam alternatif karbohidrat selain nasi. Mie salah satunya, meskipun banyak orang beranggapan mie terlalu banyak mengandung bahan berbahaya. Namun tidak semua mie memakai bahan pengawet dan pewarna, seperti mie sehat buatan Redi Murdian.
Sepintas mie sehat yang satu ini sama dengan kebanyakan mie pada umumnya, namun cobalah tengok lebih teliti warna mie jelas berbeda. Tidak berwarna putih seperti biasa melainkan berwarna hijau dan agak jingga. Bagaimana bisa mie berwarna hijau atau jingga? Mudah saja mie dibuat dari campuran sayur seperti bayam, sawi dan wortel. Sehingga warna hijau diperoleh dari perpaduan bayam dan sawi yang dihaluskan sementara warna jingga didapat dari wortel.
Mie ini disebut mie sehat lantaran bahan campurannya berasal dari sayur. Hampir serupa dengan mie pada umumnya yang terbuat dari bahan dasar seperti tepung, air dan garam hanya saja mie sehat ini ditambahkan sayur yang telah dihaluskan. Mungkin beberapa jenis mie dicampurkan telur untuk mendapatkan tingkat kekenyalan yang berbeda. Namun mie sehat buatan Redi memakai sari pati nabati sebagai pengganti telur. Pasalnya sang pencipta mie sehat tersebut enggan memakai telur untuk mencegah mienya beraroma amis. Selebihnya bahan pembuat mie hampir sama dengan mie pada umumnya.
Mie sehat tersebut dijajakan di sebuah kedai mie ayam bergizi Sari Perto di daerah Tangerang, pemiliknya termotivasi menciptakan jenis mie yang sehat untuk dikonsumsi lantaran imej mie terlanjur bobrok. “Karena bahan baku mie banyak yang memakai bahan berbahaya sehingga jarang orang mau konsumsi mie seperti konsumsi nasi. Padahal kalau sudah dibuat dengan baik dan memakai bahan baku yang sehat bisa jadi kandungan gizi pada mie mampu mengalahkan nasi,” papar Redi sesuai dengan motto yang ia usung “Mie Ayam Bergizi Lebih Dari Nasi”.
Berangkat dari keinginan membuat mie yang sehat itulah Redi hingga kini terus menciptakan jenis mie sehat dari bahan lainnya. Ia kerap melakukan uji coba untuk menciptakan jenis mie sehat dari bahan-bahan seperti tinta cumi-cumi untuk memperoleh warna hitam, seledri untuk menciptakan efek mie seperti motif batik sampai buah strawberry. Kendati demikian ia harus menyerah lantaran hasil akhirnya tidak seenak yang diperkirakan.
“Saya selalu tergerak untuk membuat jenis rasa baru lantas saya coba buah namun hasilnya kurang bisa diterima lidah dengan kata lain tidak enak,” ujar Redi tersipu malu.
Namun penjelajahan rasa tidak berhenti di tengah jalan, Redi masih rajin bereksperimen. Ia membuat mie yang bermotif serupa dengan kulit macan tutul. Dengan memakai biji wijen yang dicampurkan ke dalam adonan mie hasil akhirnya memang berbintik-bintik. Soal rasa Redi belum yakin akan disukai konsumennya karena itu ia juga belum berani meluncurkan jenis mie baru tersebut.
“Masih dalam tahap uji coba, dari rasanya mesti saya perbaiki lagi. Kalau takarannya sudah pas pasti saya pasarkan,” kata Redi. Seringnya Redi mengutak-atik rasa mie dan menciptakan varian jenis mie sehat tak lain sebagai langkah antisipasi menghadapi ketatnya persaingan bisnis kuliner terutama mie. Redi menuturkan penjual mie ayam tentu sudah sangat banyak tak terhitung jumlahnya. Mulai dari kelas kaki lima hingga kelas restoran mewah. Semuanya menawarkan rasa mie yang berbeda-beda dengan harga yang berbeda-beda pula. Redi mesti mencari solusi supaya bisnis mie
ayamnya tidak gulung tikar. Berinovasi salah satu celahnya.
Karena itulah Redi juga menargetkan untuk terus menciptakan jenis mie sehat baru. Selain itu ia juga tidak terpaku pada topping mie ayam yang selalu memakai cincangan daging ayam. “Nantinya topping mie akan saya buat hingga 100 macam supaya konsumen juga tidak lekas bosan,” imbuh Redi. Kedainya yang buka dari pagi hingga malam kerap disambangi mereka yang penasaran dengan rasa mie sehat buatan Redi. Bahkan beberapa ingin membawa pulang mie yang masih mentah.
Kendati Redi membolehkan konsumennya membeli mentah ia tetap membatasi jumlahnya. Kurang dari 50 porsi Redi masih menyanggupi jika lebih dari itu ia menolak dengan alasan kapasitas produksi yang belum mumpuni. “Kadang ada saja pembeli yang minta mie mentah, mungkin akan dijual kembali. Kalau hanya sebatas 10 sampai 20 porsi masih saya layani tapi kalau sudah lebih dari 50 porsi saya menyerah,” jelas Redi yang rutin memproduksi mie 100 porsi per harinya.
Ketidaksanggupannya memang cukup beralasan, pasalnya produksi mie sehat Redi masih skala home industry. Selain itu mie yang ia buat hanya bertahan selama 24 jam selebihnya ia tidak menjamin mienya masih layak konsumsi. Karena itulah ia juga tidak menyediakan stok mie, semua mie yang ia produksi harus terjual pada hari itu juga. “Memang harus habis pada hari yang sama mie dibuat. Saya sampai menolak permintaan pengiriman mie mentah ke daerah karena memang mie tidak akan bertahan lama,” keluh Redi.
Jika ada yang ingin membeli mie dalam jumlah banyak untuk keperluan penjualan kembali Redi lebih cenderung menyarankan yang bersangkutan ikut training cara membuat mie sehat ala dirinya. “Lebih baik ikut training, saya akan ajarkan seluk beluk cara membuat mie termasuk manajemen keuangan bisnis mie ayam,” lanjut Redi.
Ia memang membuka kesempatan training bagi mereka yang tertarik ingin berbisnis mie sehat ini. Nantinya pengaplikasian ilmu terserah kepada yang bersangkutan. Akan ikut membuka kedai seperti Redi atau hanya sekadar menjual mie mentah saja dipersilakan. “Lama training tidak dipatok sekian hari. Bebas tergantung pada kemampuan pemahaman yang bersangkutan bisa sehari atau seminggu,” terang Redi yang menarifkan biaya training sebesar Rp700 ribu.
Redaksi : PengusahaIndonesia.co.id
Sekalipun mie bukan makanan pokok, tak ada salahnya mencoba berbagai macam alternatif karbohidrat selain nasi. Mie salah satunya, meskipun banyak orang beranggapan mie terlalu banyak mengandung bahan berbahaya. Namun tidak semua mie memakai bahan pengawet dan pewarna, seperti mie sehat buatan Redi Murdian.Sepintas mie sehat yang satu ini sama dengan kebanyakan mie pada umumnya, namun cobalah tengok lebih teliti warna mie jelas berbeda. Tidak berwarna putih seperti biasa melainkan berwarna hijau dan agak jingga. Bagaimana bisa mie berwarna hijau atau jingga? Mudah saja mie dibuat dari campuran sayur seperti bayam, sawi dan wortel. Sehingga warna hijau diperoleh dari perpaduan bayam dan sawi yang dihaluskan sementara warna jingga didapat dari wortel.
Mie ini disebut mie sehat lantaran bahan campurannya berasal dari sayur. Hampir serupa dengan mie pada umumnya yang terbuat dari bahan dasar seperti tepung, air dan garam hanya saja mie sehat ini ditambahkan sayur yang telah dihaluskan. Mungkin beberapa jenis mie dicampurkan telur untuk mendapatkan tingkat kekenyalan yang berbeda. Namun mie sehat buatan Redi memakai sari pati nabati sebagai pengganti telur. Pasalnya sang pencipta mie sehat tersebut enggan memakai telur untuk mencegah mienya beraroma amis. Selebihnya bahan pembuat mie hampir sama dengan mie pada umumnya.
Mie sehat tersebut dijajakan di sebuah kedai mie ayam bergizi Sari Perto di daerah Tangerang, pemiliknya termotivasi menciptakan jenis mie yang sehat untuk dikonsumsi lantaran imej mie terlanjur bobrok. “Karena bahan baku mie banyak yang memakai bahan berbahaya sehingga jarang orang mau konsumsi mie seperti konsumsi nasi. Padahal kalau sudah dibuat dengan baik dan memakai bahan baku yang sehat bisa jadi kandungan gizi pada mie mampu mengalahkan nasi,” papar Redi sesuai dengan motto yang ia usung “Mie Ayam Bergizi Lebih Dari Nasi”.
Berangkat dari keinginan membuat mie yang sehat itulah Redi hingga kini terus menciptakan jenis mie sehat dari bahan lainnya. Ia kerap melakukan uji coba untuk menciptakan jenis mie sehat dari bahan-bahan seperti tinta cumi-cumi untuk memperoleh warna hitam, seledri untuk menciptakan efek mie seperti motif batik sampai buah strawberry. Kendati demikian ia harus menyerah lantaran hasil akhirnya tidak seenak yang diperkirakan.
“Saya selalu tergerak untuk membuat jenis rasa baru lantas saya coba buah namun hasilnya kurang bisa diterima lidah dengan kata lain tidak enak,” ujar Redi tersipu malu.
Namun penjelajahan rasa tidak berhenti di tengah jalan, Redi masih rajin bereksperimen. Ia membuat mie yang bermotif serupa dengan kulit macan tutul. Dengan memakai biji wijen yang dicampurkan ke dalam adonan mie hasil akhirnya memang berbintik-bintik. Soal rasa Redi belum yakin akan disukai konsumennya karena itu ia juga belum berani meluncurkan jenis mie baru tersebut.
“Masih dalam tahap uji coba, dari rasanya mesti saya perbaiki lagi. Kalau takarannya sudah pas pasti saya pasarkan,” kata Redi. Seringnya Redi mengutak-atik rasa mie dan menciptakan varian jenis mie sehat tak lain sebagai langkah antisipasi menghadapi ketatnya persaingan bisnis kuliner terutama mie. Redi menuturkan penjual mie ayam tentu sudah sangat banyak tak terhitung jumlahnya. Mulai dari kelas kaki lima hingga kelas restoran mewah. Semuanya menawarkan rasa mie yang berbeda-beda dengan harga yang berbeda-beda pula. Redi mesti mencari solusi supaya bisnis mie
ayamnya tidak gulung tikar. Berinovasi salah satu celahnya.Karena itulah Redi juga menargetkan untuk terus menciptakan jenis mie sehat baru. Selain itu ia juga tidak terpaku pada topping mie ayam yang selalu memakai cincangan daging ayam. “Nantinya topping mie akan saya buat hingga 100 macam supaya konsumen juga tidak lekas bosan,” imbuh Redi. Kedainya yang buka dari pagi hingga malam kerap disambangi mereka yang penasaran dengan rasa mie sehat buatan Redi. Bahkan beberapa ingin membawa pulang mie yang masih mentah.
Kendati Redi membolehkan konsumennya membeli mentah ia tetap membatasi jumlahnya. Kurang dari 50 porsi Redi masih menyanggupi jika lebih dari itu ia menolak dengan alasan kapasitas produksi yang belum mumpuni. “Kadang ada saja pembeli yang minta mie mentah, mungkin akan dijual kembali. Kalau hanya sebatas 10 sampai 20 porsi masih saya layani tapi kalau sudah lebih dari 50 porsi saya menyerah,” jelas Redi yang rutin memproduksi mie 100 porsi per harinya.
Ketidaksanggupannya memang cukup beralasan, pasalnya produksi mie sehat Redi masih skala home industry. Selain itu mie yang ia buat hanya bertahan selama 24 jam selebihnya ia tidak menjamin mienya masih layak konsumsi. Karena itulah ia juga tidak menyediakan stok mie, semua mie yang ia produksi harus terjual pada hari itu juga. “Memang harus habis pada hari yang sama mie dibuat. Saya sampai menolak permintaan pengiriman mie mentah ke daerah karena memang mie tidak akan bertahan lama,” keluh Redi.
Jika ada yang ingin membeli mie dalam jumlah banyak untuk keperluan penjualan kembali Redi lebih cenderung menyarankan yang bersangkutan ikut training cara membuat mie sehat ala dirinya. “Lebih baik ikut training, saya akan ajarkan seluk beluk cara membuat mie termasuk manajemen keuangan bisnis mie ayam,” lanjut Redi.
Ia memang membuka kesempatan training bagi mereka yang tertarik ingin berbisnis mie sehat ini. Nantinya pengaplikasian ilmu terserah kepada yang bersangkutan. Akan ikut membuka kedai seperti Redi atau hanya sekadar menjual mie mentah saja dipersilakan. “Lama training tidak dipatok sekian hari. Bebas tergantung pada kemampuan pemahaman yang bersangkutan bisa sehari atau seminggu,” terang Redi yang menarifkan biaya training sebesar Rp700 ribu.
Redaksi : PengusahaIndonesia.co.id




