5 Fondasi Keuangan RUMAH Tangga
Feature, Investasi Finansial 16.51
Kita semua sadar bahwa uang adalah sesuatu yang sensitif, apalagi
menyangkut kehidupan rumah tangga. Persoalan Rupiah ini biasanya berawal
dari perbedaan kebiasaan mengelola dilanjutkan dengan saling merasa
benar dan berakhir dengan pertengkaran.
Agar hal ini tidak terjadi, mari kita bahas satu persatu tipsnya membangun fondasi RUMAH.
R = Rekening Kebutuhan Rumah Tangga
Rekening bersama atau pisah? Ini kerap dibahas pasangan baru, terutama jika masing-masing punya penghasilan sendiri. Apapun pilihannya, yang penting adalah adanya keterbukaan dan perencanaan bersama. Hal ini berkaitan dengan pengeluaran yang semakin tinggi, seperti untuk biaya anak sekolah, dan lain-lain.
Berdasarkan survey, banyak pasangan yang merasa menggabungkan rekening atau joint account merupakan solusi yang lebih mudah. Jika pemasukan dijadikan satu, kita akan lebih mudah memantau pemasukan dan pengeluaran.
U = Hutang
Sumber prahara rumah tangga selanjutnya adalah hutang. Masing-masing individu tentu memiliki pendapat yang berbeda tentang besaran hutang. Alangkah baiknya sebelum menikah diskusikan masalah ini dahulu, sebab hutang pasangan akan jadi hutang kita juga nantinya.
Pertimbangkan perjanjian pisah harta. Jangan beranggapan buruk tentang perjanjian ini yang berguna untuk melindungi aset kita dari hutang pasangan. Tindakan berjaga-jaga diperlukan apalagi jika pasangan atau kita berutang pada rentenir yang menggunakan kekerasan untuk menagih.
M = Monitor
Menjalankan rumah tangga tak ubahnya dengan mengatur perusahaan. Kita perlu memonitor, membuat standar keberhasilan dan pencapaian agar terhindar dari kecurigaan. Jangan sampai kita menuduh pasangan boros gara-gara uang bulanan kerap habis.
Biasakan duduk bersama memutuskan alokasi uang. Utamakan untuk menyiapkan kebutuhan primer seperti sewa rumah, cicilan rumah, biaya makan, listrik, telepon, air, kesehatan, sekolah, dan transportasi. Lanjutkan dengan kebutuhan pribadi, pakaian, salon, rekreasi, pariwisata, dan pembelian barang mewah. Buatlah daftar HIS dan HERS dan negosiasikan jumlahnya.
A = Anggaran Dana Darurat
Milikilah dana darurat sejumlah 3-6 bulan dan letakkan pada deposito atau tabungan yang memiliki likuiditas tinggi alias bisa diambil sewaktu-waktu. Jangan diambil untuk pengeluaran pribadi karena dana inilah yang kelak akan menyelamatkan kita dari beragam bencana seperti PHK, sakit, atau lainnya sehingga keuangan rumah tangga tidak goncang.
H = Harus Investasi Teratur
Jika kebutuhan primer sudah tercukupi, hutang dilunasi, dan dana darurat terpenuhi, mari pikirkan investasi. Sisihkan dari awal menerima pendapatan dan pilihlah instrumen investasi yang tepat. Reksa dana bisa menjadi salah satu pilihan karena bisa dimulai dari jumlah sangat terjangkau Rp100 ribu. Biasakan memiliki satu rencana investasi untuk setiap tujuan keuangan misalnya pensiun, pendidikan anak, dan sebagainya. (infobanknews.com)
Penulis adalah Assistant Vice President Head of Investment, Bancassurance, and Treasury Products Commonwealth Bank Indonesia
Agar hal ini tidak terjadi, mari kita bahas satu persatu tipsnya membangun fondasi RUMAH.
R = Rekening Kebutuhan Rumah Tangga
Rekening bersama atau pisah? Ini kerap dibahas pasangan baru, terutama jika masing-masing punya penghasilan sendiri. Apapun pilihannya, yang penting adalah adanya keterbukaan dan perencanaan bersama. Hal ini berkaitan dengan pengeluaran yang semakin tinggi, seperti untuk biaya anak sekolah, dan lain-lain.
Berdasarkan survey, banyak pasangan yang merasa menggabungkan rekening atau joint account merupakan solusi yang lebih mudah. Jika pemasukan dijadikan satu, kita akan lebih mudah memantau pemasukan dan pengeluaran.
U = Hutang
Sumber prahara rumah tangga selanjutnya adalah hutang. Masing-masing individu tentu memiliki pendapat yang berbeda tentang besaran hutang. Alangkah baiknya sebelum menikah diskusikan masalah ini dahulu, sebab hutang pasangan akan jadi hutang kita juga nantinya.
Pertimbangkan perjanjian pisah harta. Jangan beranggapan buruk tentang perjanjian ini yang berguna untuk melindungi aset kita dari hutang pasangan. Tindakan berjaga-jaga diperlukan apalagi jika pasangan atau kita berutang pada rentenir yang menggunakan kekerasan untuk menagih.
M = Monitor
Menjalankan rumah tangga tak ubahnya dengan mengatur perusahaan. Kita perlu memonitor, membuat standar keberhasilan dan pencapaian agar terhindar dari kecurigaan. Jangan sampai kita menuduh pasangan boros gara-gara uang bulanan kerap habis.
Biasakan duduk bersama memutuskan alokasi uang. Utamakan untuk menyiapkan kebutuhan primer seperti sewa rumah, cicilan rumah, biaya makan, listrik, telepon, air, kesehatan, sekolah, dan transportasi. Lanjutkan dengan kebutuhan pribadi, pakaian, salon, rekreasi, pariwisata, dan pembelian barang mewah. Buatlah daftar HIS dan HERS dan negosiasikan jumlahnya.
A = Anggaran Dana Darurat
Milikilah dana darurat sejumlah 3-6 bulan dan letakkan pada deposito atau tabungan yang memiliki likuiditas tinggi alias bisa diambil sewaktu-waktu. Jangan diambil untuk pengeluaran pribadi karena dana inilah yang kelak akan menyelamatkan kita dari beragam bencana seperti PHK, sakit, atau lainnya sehingga keuangan rumah tangga tidak goncang.
H = Harus Investasi Teratur
Jika kebutuhan primer sudah tercukupi, hutang dilunasi, dan dana darurat terpenuhi, mari pikirkan investasi. Sisihkan dari awal menerima pendapatan dan pilihlah instrumen investasi yang tepat. Reksa dana bisa menjadi salah satu pilihan karena bisa dimulai dari jumlah sangat terjangkau Rp100 ribu. Biasakan memiliki satu rencana investasi untuk setiap tujuan keuangan misalnya pensiun, pendidikan anak, dan sebagainya. (infobanknews.com)
Penulis adalah Assistant Vice President Head of Investment, Bancassurance, and Treasury Products Commonwealth Bank Indonesia





