Dulu Tukang Cuci Piring, Kini Miliki 100 Restoran di Indonesia
Feature, Tokoh 17.02
Siapa yang tak tahu Rumah
Makan dan Restoran Sederhana. Rumah makan khas Minang ini ada di
kota-kota besar di Indonesia dan negara tetangga. Siapa sangka,
pemiliknya adalah seorang pria rendah hati yang tak berpendidikan
tinggi.
”Cari saja
rumah paling besar dan megah di sebelah sana. Itu adalah rumah Pak Haji.
Jika ragu, tanya saja sama orang, semuanya pasti tahu kok,” ujar
seorang ibu ketika Padang Ekspres menanyakan rumah Haji
Bustamam, owner Ruamah Makan dan Restoran Sederhana yang kebetulan
sedang pulang ke kampungnya di Nagari Lubuk Jantan, Lintaubuo Utara,
Tanahdatar.
Memang, hampir semua orang di
Lintau mengenal Haji Bustamam. Sebab, banyak warga Lintau yang bekerja
di rumah makan miliknya, selain itu, Pak Haji –panggilan akrab
Bustamam, dikenal sebagai orang dermawan dan banyak memberikan
sumbangsih untuk kampung halamannya.
Terbaru, bersama tokoh
masyarakat Lintau, Fasli Djalal, Novian Zen, Mufidah Jusuf Kalla dan
Haji Mai, dia membantu pendirian Akademi Komunitas Tanahdatar yang
dirintis di Nagari Tigojangko, Lintau.
Saat Padang Ekspres
sampai di rumahnya, seorang perempuan setengah baya mempersilakan
masuk. Saat itu Pak Haji sedang menerima tamu di ruangan yang
berseberangan dengan pagar. Ternyata tamu yang datang adalah Haji Mai,
tokoh masyarakat Lintau. Mereka membicarakan kelanjutan pembangunan
Akademi Komunitas Tanahdatar di Lintau. Pantas saja hampir semua
masyarakat mengenal Pak Haji.
Selain besar, rumah itu juga
megah dan ramai dikunjungi orang. Bahkan, di dalam rumah ada meja makan
dengan desain prasmanan, semua tamu bisa menikmati makan layaknya
makanan di RM Sederhana.
Tak jauh dari rumah itu, Pak Haji juga membangun masjid yang tak kalah megahnya.
Karena telah berjanji sebelumnya, Haji Bustaman langsung menyambut kedatangan Padang Ekspres.
Selanjutnya dia membicarakan
perjuangannya dari susah hingga berhasil dengan antusias. “Orang yang
bisa sukses adalah orang susah yang menyadari kesusahannya, dan mau
berbuat untuk mengubah hidup. Kalau orang sudah tidak sadar susah, dia
tidak akan berusaha. Atau, orang yang sadar susah, namun tidak mau
berusaha, juga tidak bisa sukses,” ujar Pak Haji yang hanya menempuh
pendidikan hingga kelas 2 Sekolah Rakyat itu membuka percakapan.
Dia mengaku tidak mengetahui
akan mendapatkan kesuksesan di usaha rumah makan. Menurutnya, dia
dulu awalnya sempat bekerja sebagai cuci piring dan pelayan di rumah
sakit.
Kemudian, saat dia bekerja di
toko sembako di Jambi, dia menyadari, ternyata kedai nasi itu selalu
ramai dikunjungi orang. Melihat itu, dia berdoa dalam hati. “Ya Allah,
kapan saya bisa hidup sukses seperti itu,” doa Haji Bustamam dalam hati.
Setelah timbul niat berjualan
secara mandiri, Bustamam pun merantau ke Jakarta. Dia memulai karir
sebagai pedagang dengan berjualan rokok memakai gerobak di kawasan
Matraman. Ternyata ketika itu, orang Minang bentrok dengan warga
setempat, Bustamam memutuskan pindah ke Pejompongan.
“Akhir tahun 1971 itu, hidup
semakin susah. Jualan tidak berkembang, hanya bisa untuk bertahan. Coba
yang lain, juga tidak berhasil. Akhirnya saya bersama istri memutuskan
untuk jualan nasi,” jelasnya.
Bustamam pun mulai mencari
tempat jualan. Sadar tidak mampu menyewa tempat mewah, dia mendekati
tokoh pemuda atau yang dikenal sebagai preman di Bendungan Ilir dan
dapat menyewa tempat di emperan dengan harga Rp 3 ribu ketika itu.
“Ternyata dua bulan pertama,
jualan saya belum laris. Bahkan, saya harus mendorong gerobak ke
Senayan, saat itu ada final Sea Games Indonesia lawan Myanmar. Karena
tidak tahu, kami jual nasi dengan harga yang sama. Sementara yang
lainnya jual dengan harga lebih mahal. Tentu saja dalam sekejap nasi
kami sudah habis,” kenangnya.
Jualan selama 4 bulan, cobaan
lainnya datang ke Bustamam dan istrinya. Ketika itu ada penertiban dari
trantib. Setiap orang hanya diberi ruang semeter untuk jualan.
Sementara untuk dapat tempat harus diundi dulu.
Bustamam pun menyiasati lagi.
Dia menemui pihak terkait agar dapat tempat yang strategis tanpa harus
diundi. Berkat lobi dan pendekatan yang baik, usahanya berhasil. Dia
dapat dua tempat dan saat itu kontraknya Rp 5.000.
Ternyata, penertiban itu
membawa berkah. Setelah dibenahi, tempat itu ramai dikunjungi orang.
Bustamam pun ketiban rezeki nomplok, jualannya laris manis.
“Semua yang dimasak habis.
Saya belanja dan masak, istri melayani pelanggan. Kami belum pakai
karyawan karena belum sanggup menggajinya,” ujar Bustamam.
Selama merintis usaha itu,
banyak suka duka yang dialami Bustamam. Pernah suatu ketika tangannya
tersayat pisau ketika sedang mencukur tunjang. “Ketika itu saya
menangis. Menangis bukan karena sakitnya sayatan, tapi menangis karena
susahnya hidup,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca mengenang
perjuangannya.
Perlahan usaha Bustamam
berkembang. Awalnya hanya menanak nasi 30 liter sehari, berkembang
menjadi 60 liter. Nah, ketika itu, dia kembali dapat cobaan. Kebetulan,
untuk menambah modal, dia bekerjasama dengan oknum polisi. Melihat
kemajuan usahanya, oknum itu datang tengah malam dan minta tempat
beserta karyawan.
Suatu ketika, Bustamam makan di
kedai nasi lain. Ternyata, masakan di tempat orang itu lebih enak dari
masakannya. Dia pun sadar bahwa dia harus lebih banyak belajar. Dia
memberanikan diri minta resep pada tukang masak di rumah makan
tersebut. Ternyata disambut baik.
“Tidak hanya dikasih resep,
saya juga dikasih teori masak. Yang saya pakai sampai saat ini adalah
resep dari tukang masak tersebut. Sayangnya, ketika saya sudah berhasil,
saya cari-cari dia tidak ketemu lagi. Padahal jasanya sangat besar pada
saya,” ulas Pak Haji.
Pengalaman belajar dari tukang
masak itu menjadi pemicu baginya untuk terus belajar. Caranya, di mana
pun ada kedai nasi yang ramai, maka dia akan makan di sana dan
mempelajari kelebihan dan kekurangan dari saingannya itu. “Saya
pelajari trik orang yang maju dan pelajari juga kekurangan orang yang
gagal,” ujarnya.
Bustamam menceritakan,
sebenarnya dia tidak pernah terbayang akan memiliki cabang di hampir
seluruh Indonesia, seperti sekarang. Namun, suatu ketika pelanggannya
bernama Eri Sembiring menyarankan agar dia membuka cabang, karena
masakannya memiliki kekhasan dan sesuai dengan lidah berbagai suku.
“Saya buka cabang pertama di
Pekanbaru pada tahun 2012. Setiap memasuki daerah baru, saya kunjungi
kedai nasi yang paling ramai dan mempelajari kelebihan dan
kekurangannya. Tujuannya untuk belajar dan mencari peluang. Dari
kekurangannya, kita belajar dan mendapatkan peluang. Intinya, dalam
berusaha kita harus menguasai kelebihan dan kelemahan kawan,”
paparnya.
Sekarang Haji Bustamam sudah
memiliki 100 rumah makan di seluruh nusantara. Di Indonesia dia sudah
memiliki cabang di seluruh provinsi, kecuali Papua.





