Kisah Sukses Bambang Haryono, mengubah Pohon Asem menjadi Barang Bernilai
Feature, Tokoh 12.05
Usaha kerajinan tangan kayu pohon asam sudah digeluti selama tiga tahun silam, Bambang Haryono melihat ada kekhasan unik pada pohon asam. Menggeluti
usahanya itu, Bambang lebih mengutamakan pemberdayaan masyarakat Banyuwangi
daripada menggunakan tenaga mesin.
Pohon asam selama ini dianggap tidak memiliki
nilai ekonomi tinggi, alias cuma untuk arang. Namun Bambang Hariyono, seorang
penggiat UMKM kerajinan asal Banyuwangi, kayu pohon asam bisa disulap menjadi
barang yang berguna dan menghasilkan uang.
Melihat adanya Potensi bagus, akhirnya Bambang Haryono berbekal keinginan yang kuat, Bambang kemudian menjadikan pohon asam sebagai kerajinan tangan, termasuk limbahnya yang dijadikan ornamen furnitur yang berkelas internasional.
Melihat adanya Potensi bagus, akhirnya Bambang Haryono berbekal keinginan yang kuat, Bambang kemudian menjadikan pohon asam sebagai kerajinan tangan, termasuk limbahnya yang dijadikan ornamen furnitur yang berkelas internasional.
“Kayu pohon asam menurut saya unik, seperti
memiliki ciri yang khas dan juga tiap potong yang dibuat tidak akan pernah
sama. Maka yang banyak minat untuk produksi kayu asam ini Eropa dan Amerika,”
kata Bambang yang ditemui di workshop ‘Oesing craft’ miliknya, Banyuwangi.
Dan
saat ini Perusahaannya telah memiliki lebih dari 250 pegawai yang dirangkulnya
untuk membuat kerajinan kayu. Tenaga kerja itu direkrut dari berbagai
kecamatan, yaitu Glagah, Kalipuro, Kabat. Bahkan Bambang juga kerjasama dengan
Lembaga Pemberdayaan Masyarakat maupun lembaga pemasyarakatan (lapas) di
Banyuwangi.
“Kita rangkul lapas agar napi-napi juga punya
ketrampilan selama di dalam,” kata Bambang. Selain itu, Bambang juga memiliki
anak cabang yang ada di Situbondo, Jember, dan Pasuruan. Kerajinan milik
bambang ini beraneka ragam, seperti tablewear, mangkok, guci, tempat makan, dan
tempat perhiasan.
Dengan Kegigihan Bambang, produk kerajinan asal
banyuwangi ini telah beredar ke berbagai negara, seperti Swiss, Belanda,
Jerman, Amerika, Jepang, Hong Kong, Singapura, dan Malaysia. Tak heran jika
tiap bulan omzet yang didapat mencapai Rp 1 miliar.
Oesing
craft bahkan sudah dikontrak oleh perusahaan besar asal Jepang untuk membuat
kerajinan kayu. “Berapa pun yang kita produksi, mereka siap menerima. Bahkan
untuk pengiriman ke Jepang itu ada batas minumum jumlah,” kata Bambang bangga.
Karena keuletan dan kegigihan itu, berbagai
penghargaan telah diraih, seperti penghargaan dari Unesco Award of Excellence
for Handycraft pada 2012 lalu untuk wilayah Asia Tenggara.
Selain itu juga meraih piagam penghargaan SMESCO
Award Tahun 2009, Juara 2 Desain Cindera Mata Jatim 2009, Prabaswara Award di
bidang Ekspor 2012, dan berbagai penghargaan bidang kerajinan serta pemberdayaan
masyarakat.
“Kita tetap mengutamakan kualitas dari kerajinan
yang kita buat. Saat pesanan banyak, kita tidak boleh lengah untuk mengutamakan
kualitas tiap piece-nya. Kalau kualitas jelek, pasti konsumen lari,
apalagi Jepang yang selalu teliti barang yang kita kirim”, tandas Bambang yang
juga memiliki impian melatih para mantas PSK di Dolly untuk bisa memiliki
ketrampilan membuat kerajinan dari pohon kayu ini.
Sumber : detik.com
Usaha
kerajinan tangan kayu pohon asam sudah di geluti selama tiga tahun
silam, Bambang Haryono melihat ada kekhasan unik pada pohon asam.
Menggeluti usahanya itu, Bambang lebih mengutamakan pemberdayaan
masyarakat Banyuwangi daripada menggunakan tenaga mesin.
Dan
saat ini Perusahaannya telah memiliki lebih dari 250 pegawai yang
dirangkulnya untuk membuat kerajinan kayu. Tenaga kerja itu direkrut
dari berbagai kecamatan, yaitu Glagah, Kalipuro, Kabat. Bahkan Bambang
juga kerjasama dengan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat maupun lembaga
pemasyarakatan (lapas) di Banyuwangi.
Oesing
craft bahkan sudah dikontrak oleh perusahaan besar asal Jepang untuk
membuat kerajinan kayu. “Berapa pun yang kita produksi, mereka siap
menerima. Bahkan untuk pengiriman ke Jepang itu ada batas minumum
jumlah,” kata Bambang bangga.
Pohon asam selama ini dianggap tidak
memiliki nilai ekonomi tinggi, alias cuma untuk arang. Namun Bambang
Hariyono, seorang penggiat UMKM kerajinan asal Banyuwangi, kayu pohon
asam bisa disulap menjadi barang yang berguna dan menghasilkan uang.
Melihat adanya Potensi bagus, akhirnya
Bambang Haryono berbekal keinginan yang kuat, Bambang kemudian
menjadikan pohon asam sebagai kerajinan tangan, termasuk limbahnya yang
dijadikan ornamen furnitur yang berkelas internasional.
“Kayu pohon asam menurut saya unik,
seperti memiliki ciri yang khas dan juga tiap potong yang dibuat tidak
akan pernah sama. Maka yang banyak minat untuk produksi kayu asam ini
Eropa dan Amerika,” kata Bambang yang ditemui di workshop ‘Oesing craft’
miliknya, Banyuwangi.
Dan
saat ini Perusahaannya telah memiliki lebih dari 250 pegawai yang
dirangkulnya untuk membuat kerajinan kayu. Tenaga kerja itu direkrut
dari berbagai kecamatan, yaitu Glagah, Kalipuro, Kabat. Bahkan Bambang
juga kerjasama dengan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat maupun lembaga
pemasyarakatan (lapas) di Banyuwangi.
“Kita rangkul lapas agar napi-napi juga
punya ketrampilan selama di dalam,” kata Bambang. Selain itu, Bambang
juga memiliki anak cabang yang ada di Situbondo, Jember, dan Pasuruan.
Kerajinan milik bambang ini beraneka ragam, seperti tablewear, mangkok,
guci, tempat makan, dan tempat perhiasan.
Dengan Kegigihan Bambang, produk
kerajinan asal banyuwangi ini telah beredar ke berbagai negara, seperti
Swiss, Belanda, Jerman, Amerika, Jepang, Hong Kong, Singapura, dan
Malaysia. Tak heran jika tiap bulan omzet yang didapat mencapai Rp 1
miliar.
Oesing
craft bahkan sudah dikontrak oleh perusahaan besar asal Jepang untuk
membuat kerajinan kayu. “Berapa pun yang kita produksi, mereka siap
menerima. Bahkan untuk pengiriman ke Jepang itu ada batas minumum
jumlah,” kata Bambang bangga.
Karena keuletan dan kegigihan itu,
berbagai penghargaan telah diraih, seperti penghargaan dari Unesco Award
of Excellence for Handycraft pada 2012 lalu untuk wilayah Asia
Tenggara.
Selain itu juga meraih piagam
penghargaan SMESCO Award Tahun 2009, Juara 2 Desain Cindera Mata Jatim
2009, Prabaswara Award di bidang Ekspor 2012, dan berbagai penghargaan
bidang kerajinan serta pemberdayaan masyarakat.
“Kita tetap mengutamakan kualitas dari
kerajinan yang kita buat. Saat pesanan banyak, kita tidak boleh lengah
untuk mengutamakan kualitas tiap piece-nya. Kalau kualitas
jelek, pasti konsumen lari, apalagi Jepang yang selalu teliti barang
yang kita kirim”, tandas Bambang yang juga memiliki impian melatih para
mantas PSK di Dolly untuk bisa memiliki ketrampilan membuat kerajinan
dari pohon kayu ini.
Sumber : detik.com
- See
more at:
http://kisahsukses.info/kisah-sukses-bambang-haryono-mengubah-pohon-asem-menjadi-barang-bernilai.html#sthash.FlZJnF5q.dpuf
Usaha
kerajinan tangan kayu pohon asam sudah di geluti selama tiga tahun
silam, Bambang Haryono melihat ada kekhasan unik pada pohon asam.
Menggeluti usahanya itu, Bambang lebih mengutamakan pemberdayaan
masyarakat Banyuwangi daripada menggunakan tenaga mesin.
Dan
saat ini Perusahaannya telah memiliki lebih dari 250 pegawai yang
dirangkulnya untuk membuat kerajinan kayu. Tenaga kerja itu direkrut
dari berbagai kecamatan, yaitu Glagah, Kalipuro, Kabat. Bahkan Bambang
juga kerjasama dengan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat maupun lembaga
pemasyarakatan (lapas) di Banyuwangi.
Oesing
craft bahkan sudah dikontrak oleh perusahaan besar asal Jepang untuk
membuat kerajinan kayu. “Berapa pun yang kita produksi, mereka siap
menerima. Bahkan untuk pengiriman ke Jepang itu ada batas minumum
jumlah,” kata Bambang bangga.
Pohon asam selama ini dianggap tidak
memiliki nilai ekonomi tinggi, alias cuma untuk arang. Namun Bambang
Hariyono, seorang penggiat UMKM kerajinan asal Banyuwangi, kayu pohon
asam bisa disulap menjadi barang yang berguna dan menghasilkan uang.
Melihat adanya Potensi bagus, akhirnya
Bambang Haryono berbekal keinginan yang kuat, Bambang kemudian
menjadikan pohon asam sebagai kerajinan tangan, termasuk limbahnya yang
dijadikan ornamen furnitur yang berkelas internasional.
“Kayu pohon asam menurut saya unik,
seperti memiliki ciri yang khas dan juga tiap potong yang dibuat tidak
akan pernah sama. Maka yang banyak minat untuk produksi kayu asam ini
Eropa dan Amerika,” kata Bambang yang ditemui di workshop ‘Oesing craft’
miliknya, Banyuwangi.
Dan
saat ini Perusahaannya telah memiliki lebih dari 250 pegawai yang
dirangkulnya untuk membuat kerajinan kayu. Tenaga kerja itu direkrut
dari berbagai kecamatan, yaitu Glagah, Kalipuro, Kabat. Bahkan Bambang
juga kerjasama dengan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat maupun lembaga
pemasyarakatan (lapas) di Banyuwangi.
“Kita rangkul lapas agar napi-napi juga
punya ketrampilan selama di dalam,” kata Bambang. Selain itu, Bambang
juga memiliki anak cabang yang ada di Situbondo, Jember, dan Pasuruan.
Kerajinan milik bambang ini beraneka ragam, seperti tablewear, mangkok,
guci, tempat makan, dan tempat perhiasan.
Dengan Kegigihan Bambang, produk
kerajinan asal banyuwangi ini telah beredar ke berbagai negara, seperti
Swiss, Belanda, Jerman, Amerika, Jepang, Hong Kong, Singapura, dan
Malaysia. Tak heran jika tiap bulan omzet yang didapat mencapai Rp 1
miliar.
Oesing
craft bahkan sudah dikontrak oleh perusahaan besar asal Jepang untuk
membuat kerajinan kayu. “Berapa pun yang kita produksi, mereka siap
menerima. Bahkan untuk pengiriman ke Jepang itu ada batas minumum
jumlah,” kata Bambang bangga.
Karena keuletan dan kegigihan itu,
berbagai penghargaan telah diraih, seperti penghargaan dari Unesco Award
of Excellence for Handycraft pada 2012 lalu untuk wilayah Asia
Tenggara.
Selain itu juga meraih piagam
penghargaan SMESCO Award Tahun 2009, Juara 2 Desain Cindera Mata Jatim
2009, Prabaswara Award di bidang Ekspor 2012, dan berbagai penghargaan
bidang kerajinan serta pemberdayaan masyarakat.
“Kita tetap mengutamakan kualitas dari
kerajinan yang kita buat. Saat pesanan banyak, kita tidak boleh lengah
untuk mengutamakan kualitas tiap piece-nya. Kalau kualitas
jelek, pasti konsumen lari, apalagi Jepang yang selalu teliti barang
yang kita kirim”, tandas Bambang yang juga memiliki impian melatih para
mantas PSK di Dolly untuk bisa memiliki ketrampilan membuat kerajinan
dari pohon kayu ini.
Sumber : detik.com
- See
more at:
http://kisahsukses.info/kisah-sukses-bambang-haryono-mengubah-pohon-asem-menjadi-barang-bernilai.html#sthash.FlZJnF5q.dpuf





