Berutang yang sehat
Zillionaire 08.43
Secara singkat KPR/KPA umumnya dikelompokkan orang sebagai utang produktif karena dengan utang tersebut aset yang dibeli nilainya cenderung meningkat, sementara kartu kredit/KKB dikategorikan sebagai utang konsumtif karena aset atau barang yang dibeli cenderung habis dikonsumsi atau nilainya berkurang.
Untuk KTA interpretasinya bisa dua sisi, bergantung pada penggunaan dana utang yang diterima. Bagi mereka yang menggunakan KTA untuk berbisnis, dikategorikan produktif, sementara yang menggunakan KTA untuk menikah atau refinancing kartu kredit digolongkan konsumtif.
Jadi langkah terpenting adalah mencatat pengeluaran cicilan utang secara disiplin kemudian membandingkan dan mengelolanya terhadap pendapatan. Adapun indikator kesehatan utang pribadi adalah debt service ratio dan non-mortgage debt service ratio.
Debt service ratio sebagai indikator yang membandingkan total pembayaran pinjaman tahunan dengan total pendapatan tahunan. Rasio ini menunjukkan jumlah pendapatan yang dibutuhkan dalam setahun untuk membayar total utang tahunan. Tingkat rasio 35% atau kurang mengindikasikan kecukupan dana pembayaran utang. Jika rasio Anda 45% artinya Anda membelanjakan 45% dari pendapatan untuk mencicil tumpukan utang!
Non-mortgage debt service ratio membandingkan total pendapatan tahunan terhadap pembayaran keseluruhan pinjaman setahun di luar cicilan kredit rumah atau mortgage. Level rasio 15% atau kurang dinilai masih dalam ambang wajar, sementara rasio 30% artinya posisi non-mortgage terlalu tinggi. Jika lebih dari rasio itu, artinya Anda telah membelanjakan lebih dari 15% penghasilan hanya untuk utang yang sifatnya konsumtif.
Selanjutnya marilah kita fokuskan bagaimana kita mengerti dan kemudian mengenalkan konsep berutang yang sehat (good debt) pada anak-anak. Sebagian orang bilang hal ini mah bisa dipelajari nanti saat mereka dewasa.
Ajarkan anak
Namun, tak salah dong sebagai orangtua yang baik atau orang dewasa yang bertanggung jawab mengajarkan hal ini pada mereka yang berusia belia agar mencegah mereka terjerumus pada utang yang tidak sehat (bad debt) pada masa depan.
Sebelum mengajarkan anak-anak tentang utang, pastikan (Anda dan) anak telah belajar topik-topik seperti earning, sharing, saving, dan spending sebelumnya. Anak harus tahu dari mana datangnya uang yang ada di tangan mereka sekarang, pentingnya konsep berbagi diwujudkan sebagai bentuk syukur atas berkat Yang Mahakuasa, hingga pentingnya menabung untuk konsumsi masa depan serta disiplin berbelanja sebagai kebiasaan yang 'membahagiakan'.
Jangan lupa ingatkan kembali konsep bunga (atau bagi hasil) setelah sempat disinggung dulu sewaktu belajar soal menabung, sehingga mereka mengerti dengan menabung ada tambahan uang yang disebut penghasilan bunga atau bagi hasil.
Ajak anak-anak belanja dan biarkan mereka menyaksikan prosesnya. Sehingga kita berkesempatan memandu anak-anak menghitung sederhana kalau selembar uang dengan nilai nominal besar dapat ditukar dengan barang atau benda yang dibutuhkan keluarga tetapi tetap dapat uang kembali, yang jumlah lembarnya bisa jadi lebih banyak dari uang yang dikeluarkan.
Selanjutnya, kita uji cobakan dengan memberi anak-anak utang. Jangan lupa, kenakan bunga yang cukup bagi mereka layaknya meminjam ke bank dan jaga agar periode pembayaran cicilan pendek, sehingga anak belajar konsekuensi dari berutang.
Lalu kenalkan mereka beragam utang, dimana utang tersebut membantu mereka untuk membeli seandainya tabungan tidak mencukupi. Kenalkan utang produktif seperti KPR/KPA dan pinjaman usaha, kemudian baru utang konsumtif seperti kredit mobil dan kartu kredit. Yakinkan mereka agar tidak perlu takut mengambil utang bila nanti mereka memerlukannya, tetapi biasakan hanya mengambil kredit untuk hal yang benar-benar diperlukan.
Alternatif cara bagi anak yang lebih besar, 'dengan sengaja' janganlah membayar lunas tagihan kartu kredit untuk 1 - 2 bulan dan ajak si kecil melihat dan membicarakan lembar penagihan sehingga didapat gambaran jelas tentang efek bunga pinjaman yang sangat memberatkan!
Anak akan mengerti benar akibat bila mereka tidak disiplin behutang, yakni mengambil terlalu banyak utang atau bahkan telat membayar cicilannya. Akhirnya, kita tahu utang itu bisa jadi utang sehat dan utang tidak sehat, tetapi tidak perlu takut atas utang.
Utang konsumtif pun tidak dosa diambil selama peruntukannya jelas, nilai kredit, dan cicilannya terukur serta sesuai dengan kemampuan kita membayar cicilannya. Terpenting, kita sendiri harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak dengan disiplin dalam berutang. Jadilah terang bagi anak-anak!




