Aset Bank Perkreditan Rakyat Tumbuh 21,5%
Breaking News 09.09
Bank Perkreditan Rakyat di Indonesia mencatatkan pertumbuhan aset hingga periode Februari 2012 meningkat 21,5% menjadi Rp 56,9 triliun dibanding periode Februari 2011 sebesar Rp 46,8 triliun, menurut data Bank Indonesia. Kenaikan aset ini didorong pertumbuhan penyaluran kredit dan sumber dana pihak ketiga.
Menurut data statistik Bank Perkreditan Rakyat konvensional hingga periode Februari 2012 tercatat penyaluran kredit telah mencapai Rp 42,48 triliun, atau meningkat 21,8% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya Rp 34,86 triliun.
Sedangkan perkembangan penghimpunan dana pihak ketiga juga meningkat 29,6% menjadi Rp 46, 1 triliun dibanding periode yang sama pada 2011 sebesar Rp 35,5 triliun. Tabungan meningkat sebesar 21,59% menjadi Rp12,33 triliun dan deposito naik 21,92% menjadi Rp27,09 triliun. Sebagian likuiditas BPR masih dipenuhi oleh kredit linkage yang tercatat sebesar Rp6,26 triliun pada akhir Februari 2012.
Rasio penyaluran kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) tercatat 79,47%, atau hanya naik sedikit dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya 79,39%. Tingginya penyaluran kredit juga diimbangi dengan tingkat risiko yang tercermin pada kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang turun menjadi 5,57% dibanding periode yang sama pada 2011 di level 6,52%.
Sementara jumlah Bank Perkreditan Rakyat hingga Februari sebanyak 1,665 bank atau menurun dibanding posisi Desember 2011 sebanyak 1,669 bank.
Joko Suyanto, Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo), mengatakan pertumbuhan industri BPR selama tiga tahun terakhir cukup menggembirakan, terutama jika ditinjau dari sisi total aset. Pada 2009, BPR dengan total aset di atas Rp 10 miliar hanya 779 unit, namun pada 2011 naik menjadi 1.002 unit. “Perkembangan ini cukup menggembirakan”, kata Joko.
Ia menambahkan BPR dengan total aset antara Rp 5 miliar - Rp 10 miliar pada 2009
berjumlah 479 unit turun menjadi 387 unit pada 2011. BPR dengan total aset di bawah Rp 1 miliar jumlahnya terus mengalami penurunan, yaitu dari 46 unit pada 2009 menjadi hanya 16 unit pada 2011.
Joko mengatakan jika dilihat dari jumlah dana pihak ketiga, pertumbuhan selama dua tahun terahkir juga mengalami tren yang sangat positif. Dana yang tersimpan dalam produk tabungan pada 2010 sebesar Rp 9,8 triliun dengan 7804 rekening, pada 2011 meningkat menjadi Rp12,03 triliun dengan 8.551.718 rekening atau masing-masing tumbuh 19.16% dan 22.10%.
Sementara itu, dana yang dihimpun dalam bentuk deposito pada 2010 sebesar Rp 21,4 triliun dengan 413.082 rekening, pada 2011 meningkat menjadi Rp 26,1 triliun dengan 424.840 rekening, atau masing-masing tumbuh 24.10% dan 22.05%.
Pertumbuhan kredit BPR pada 2010 jumlah kredit yang tersalurkan mencapai Rp 33,5 triliun, mengalami pertumbuhan positif pada 2011 mencapai Rp 41,1 triliun atau tumbuh sebesar 21.44%.
Ia mengatakan industri BPR yang terus mengalami pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa jangkauan pelayanan BPR semakin luas dan keberadaan BPR semakin dibutuhkan masyarakat. Namun, ia mengingatkan faktor yang memengaruhi perkembangan industri BPR telah dan akan terus mengalami perubahan yang sangat cepat.
Menurut data statistik Bank Perkreditan Rakyat konvensional hingga periode Februari 2012 tercatat penyaluran kredit telah mencapai Rp 42,48 triliun, atau meningkat 21,8% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya Rp 34,86 triliun.
Sedangkan perkembangan penghimpunan dana pihak ketiga juga meningkat 29,6% menjadi Rp 46, 1 triliun dibanding periode yang sama pada 2011 sebesar Rp 35,5 triliun. Tabungan meningkat sebesar 21,59% menjadi Rp12,33 triliun dan deposito naik 21,92% menjadi Rp27,09 triliun. Sebagian likuiditas BPR masih dipenuhi oleh kredit linkage yang tercatat sebesar Rp6,26 triliun pada akhir Februari 2012.
Rasio penyaluran kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) tercatat 79,47%, atau hanya naik sedikit dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya 79,39%. Tingginya penyaluran kredit juga diimbangi dengan tingkat risiko yang tercermin pada kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang turun menjadi 5,57% dibanding periode yang sama pada 2011 di level 6,52%.
Sementara jumlah Bank Perkreditan Rakyat hingga Februari sebanyak 1,665 bank atau menurun dibanding posisi Desember 2011 sebanyak 1,669 bank.
Joko Suyanto, Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo), mengatakan pertumbuhan industri BPR selama tiga tahun terakhir cukup menggembirakan, terutama jika ditinjau dari sisi total aset. Pada 2009, BPR dengan total aset di atas Rp 10 miliar hanya 779 unit, namun pada 2011 naik menjadi 1.002 unit. “Perkembangan ini cukup menggembirakan”, kata Joko.
Ia menambahkan BPR dengan total aset antara Rp 5 miliar - Rp 10 miliar pada 2009
berjumlah 479 unit turun menjadi 387 unit pada 2011. BPR dengan total aset di bawah Rp 1 miliar jumlahnya terus mengalami penurunan, yaitu dari 46 unit pada 2009 menjadi hanya 16 unit pada 2011.
Joko mengatakan jika dilihat dari jumlah dana pihak ketiga, pertumbuhan selama dua tahun terahkir juga mengalami tren yang sangat positif. Dana yang tersimpan dalam produk tabungan pada 2010 sebesar Rp 9,8 triliun dengan 7804 rekening, pada 2011 meningkat menjadi Rp12,03 triliun dengan 8.551.718 rekening atau masing-masing tumbuh 19.16% dan 22.10%.
Sementara itu, dana yang dihimpun dalam bentuk deposito pada 2010 sebesar Rp 21,4 triliun dengan 413.082 rekening, pada 2011 meningkat menjadi Rp 26,1 triliun dengan 424.840 rekening, atau masing-masing tumbuh 24.10% dan 22.05%.
Pertumbuhan kredit BPR pada 2010 jumlah kredit yang tersalurkan mencapai Rp 33,5 triliun, mengalami pertumbuhan positif pada 2011 mencapai Rp 41,1 triliun atau tumbuh sebesar 21.44%.
Ia mengatakan industri BPR yang terus mengalami pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa jangkauan pelayanan BPR semakin luas dan keberadaan BPR semakin dibutuhkan masyarakat. Namun, ia mengingatkan faktor yang memengaruhi perkembangan industri BPR telah dan akan terus mengalami perubahan yang sangat cepat.




