Perbankan Tidak Naikkan Bunga Kredit Konsumsi
Breaking News 16.12
PT BNI Tbk (BBNI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) optimistis tidak perlu menaikkan bunga kredit konsumsi dalam waktu dekat, menurut direksi bank. Hal ini karena penundaan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sehingga kenaikan inflasi tidak akan terlalu tinggi.
Darmadi Sutanto, Direktur Konsumer BNI, menjelaskan sejak awal tahun hingga awal kuartal II 2012, BNI belum menaikkan suku bunga dasar kredit (SBDK) sektor konsumsi. “Sejak akhir tahun lalu, BNI belum menaikkan bunga dasar kredit. Dengan batalnya kenaikan harga BBM, bunga kredit yang tadinya akan naik karena mengantisipasi kenaikan inflasi, tidak jadi naik,” jelasnya.
Berdasarkan website BNI, perseroan menetapkan bunga dasar kredit konsumsi sektor kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar 10,70% per Maret 2012 atau turun sekitar 30 basis poin dibanding akhir Desember 2011 sebesar 11%. Kredit konsumsi khusus non-KPR juga tercatat turun 25 bps menjadi 12% dari sebelumnya 12,25%.
Di luar kredit konsumsi, pada kuartal I 2012, BNI juga menurunkan bunga dasar kredit sektor korporasi menjadi 10,20% dari 10,45% pada akhir Desember 2011. Di sektor ritel, per 30 Maret 2012, BNI menurunkan bunga dasar kredit menjadi 11,65% dari sebelumnya 12,95%.
Tahun ini, BNI berencana meningkatkan penyaluran kredit konsumsi sebesar 25%, sesuai dengan rencana perseroan di awal tahun menjadi berkisar Rp 40 triliun-Rp 42,5 triliun. Hingga kuartal I 2012, perseroan membukukan kredit konsumsi sekitar Rp 35,7 triliun. Penyaluran terbesar tetap pada kredit rumah sekitar Rp 19,8 triliun atau telah naik 10% year to date dibanding akhir 2011 yang sekitar Rp 18 triliun. Kredit konsumsi BNI juga ditopang oleh kenaikan bisnis kartu kredit yang memiliki outstanding kredit Rp 5,2 triliun.
Sisanya, merupakan porsi kredit kendaraan bermotor yang rencananya akan diperlambat pertumbuhannya tahun ini, yaitu sekitar Rp 6,2 triliun. Perseroan juga memiliki kredit tanpa agunan dan kredit multiguna tetapi dalam porsi kecil.
Tahun ini, perseroan akan menahan penyaluran kredit pembelian rumah di atas Rp 500 juta akan sedikit mengerem di sektor tersebut karena adanya pembatasan loan to value (LTV) maksimal 30%.
Darmadi mengungkapkan perseroan sebelumnya berencana meningkatkan pembiayaan rumah bernilai di atas Rp 500 juta. Saat ini porsi pembiayaan rumah perseroan mayoritas berada di sektor perumahan kecil senilai antara Rp 200 juta-Rp 250 juta. Porsi pembiayaan di rumah kecil tersebut dari sisi jumlah rumah masih sekitar 70%-75% dari total portofolio kredit rumah BNI. Sisanya, merupakan pembiayaan kredit rumah di atas Rp 500 juta.
Lanjutkan Promosi
Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, mengungkapkan perseroan tetap menjalankan promosi kredit pemilikan rumah sebesar 8% dengan bunga tetap selama 55 bulan. “Untuk KPR dan kredit kendaraan bermotor, kami memberikan bunga yang cukup murah di pasar,” ujarnya.
Ia mengaku penetapan bunga rendah merupakan salah satu cara agar pertumbuhan kredit konsumsi perseroan tetap berada dalam target, yaitu sebesar 20%-25% dibanding akhir 2011. Tahun lalu, BCA mencatat pertumbuhan kredit 31,4% menjadi Rp 202,3 triliun. Segmen kredit konsumsi BCA menyumbang pertumbuhan terbesar 37,6% menjadi Rp 50,3 triliun, didukung pertumbuhan kredit rumah dan mobil.
Menurut data di situs BCA, per 31 Maret 2012 perseroan menetapkan suku bunga dasar kredit konsumsi khusus KPR sebesar 9,5%, naik 200 basis poin dibanding periode 31 Desember 2011 sebesar 7,5%. Hal ini disebabkan akhir tahun lalu perseroan menetapkan promosi KPR dengan bunga yang lebih rendah dari bunga KPR saat ini.
Suku bunga dasar kredit konsumsi non-KPR BCA per 31 Maret 2012 mencapai 8,18%, turun 46 basis poin dibanding periode Desember 2011 sebesar 8,64%. Untuk suku bunga dasar kredit sektor korporasi, BCA menetapkan sebesar 9% atau sama dengan periode Desember 2011. Suku bunga dasar kredit sektor ritel sebesar 10,50%, juga sama seperti periode Desember 2011. (indonesiafinancetoday.com)
Darmadi Sutanto, Direktur Konsumer BNI, menjelaskan sejak awal tahun hingga awal kuartal II 2012, BNI belum menaikkan suku bunga dasar kredit (SBDK) sektor konsumsi. “Sejak akhir tahun lalu, BNI belum menaikkan bunga dasar kredit. Dengan batalnya kenaikan harga BBM, bunga kredit yang tadinya akan naik karena mengantisipasi kenaikan inflasi, tidak jadi naik,” jelasnya.
Berdasarkan website BNI, perseroan menetapkan bunga dasar kredit konsumsi sektor kredit pemilikan rumah (KPR) sebesar 10,70% per Maret 2012 atau turun sekitar 30 basis poin dibanding akhir Desember 2011 sebesar 11%. Kredit konsumsi khusus non-KPR juga tercatat turun 25 bps menjadi 12% dari sebelumnya 12,25%.
Di luar kredit konsumsi, pada kuartal I 2012, BNI juga menurunkan bunga dasar kredit sektor korporasi menjadi 10,20% dari 10,45% pada akhir Desember 2011. Di sektor ritel, per 30 Maret 2012, BNI menurunkan bunga dasar kredit menjadi 11,65% dari sebelumnya 12,95%.
Tahun ini, BNI berencana meningkatkan penyaluran kredit konsumsi sebesar 25%, sesuai dengan rencana perseroan di awal tahun menjadi berkisar Rp 40 triliun-Rp 42,5 triliun. Hingga kuartal I 2012, perseroan membukukan kredit konsumsi sekitar Rp 35,7 triliun. Penyaluran terbesar tetap pada kredit rumah sekitar Rp 19,8 triliun atau telah naik 10% year to date dibanding akhir 2011 yang sekitar Rp 18 triliun. Kredit konsumsi BNI juga ditopang oleh kenaikan bisnis kartu kredit yang memiliki outstanding kredit Rp 5,2 triliun.
Sisanya, merupakan porsi kredit kendaraan bermotor yang rencananya akan diperlambat pertumbuhannya tahun ini, yaitu sekitar Rp 6,2 triliun. Perseroan juga memiliki kredit tanpa agunan dan kredit multiguna tetapi dalam porsi kecil.
Tahun ini, perseroan akan menahan penyaluran kredit pembelian rumah di atas Rp 500 juta akan sedikit mengerem di sektor tersebut karena adanya pembatasan loan to value (LTV) maksimal 30%.
Darmadi mengungkapkan perseroan sebelumnya berencana meningkatkan pembiayaan rumah bernilai di atas Rp 500 juta. Saat ini porsi pembiayaan rumah perseroan mayoritas berada di sektor perumahan kecil senilai antara Rp 200 juta-Rp 250 juta. Porsi pembiayaan di rumah kecil tersebut dari sisi jumlah rumah masih sekitar 70%-75% dari total portofolio kredit rumah BNI. Sisanya, merupakan pembiayaan kredit rumah di atas Rp 500 juta.
Lanjutkan Promosi
Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, mengungkapkan perseroan tetap menjalankan promosi kredit pemilikan rumah sebesar 8% dengan bunga tetap selama 55 bulan. “Untuk KPR dan kredit kendaraan bermotor, kami memberikan bunga yang cukup murah di pasar,” ujarnya.
Ia mengaku penetapan bunga rendah merupakan salah satu cara agar pertumbuhan kredit konsumsi perseroan tetap berada dalam target, yaitu sebesar 20%-25% dibanding akhir 2011. Tahun lalu, BCA mencatat pertumbuhan kredit 31,4% menjadi Rp 202,3 triliun. Segmen kredit konsumsi BCA menyumbang pertumbuhan terbesar 37,6% menjadi Rp 50,3 triliun, didukung pertumbuhan kredit rumah dan mobil.
Menurut data di situs BCA, per 31 Maret 2012 perseroan menetapkan suku bunga dasar kredit konsumsi khusus KPR sebesar 9,5%, naik 200 basis poin dibanding periode 31 Desember 2011 sebesar 7,5%. Hal ini disebabkan akhir tahun lalu perseroan menetapkan promosi KPR dengan bunga yang lebih rendah dari bunga KPR saat ini.
Suku bunga dasar kredit konsumsi non-KPR BCA per 31 Maret 2012 mencapai 8,18%, turun 46 basis poin dibanding periode Desember 2011 sebesar 8,64%. Untuk suku bunga dasar kredit sektor korporasi, BCA menetapkan sebesar 9% atau sama dengan periode Desember 2011. Suku bunga dasar kredit sektor ritel sebesar 10,50%, juga sama seperti periode Desember 2011. (indonesiafinancetoday.com)




