Toraya dan kekhasan yang diwariskan

Adakah perusahaan keluarga yang sanggup bertahan dalam usia yang panjang, bahkan melampaui tujuh turunan?

Ternyata ada. Saya beruntung, karena beberapa waktu lalu mendapatkan kesempatan mendengarkan secara langsung sharing pengalaman dari 'guru manajemen' yang memimpin perusahaan keluarga dari Jepang, yang sanggup bertahan dalam usia yang panjang itu.

Ia adalah Mitsuhiro Kurokawa, Presiden Direktur Toraya Confectionery Co. Ltd, Jepang. Mitsuhiro merupakan wakil generasi ke-17 keluarga pendiri perusahaan yang memproduksi Wagashi atau kue tradisional Jepang itu.

Anda pasti sependapat, tidak mudah bagi perusahaan untuk dapat bertahan berabad-abad dalam dinamika bisnis yang selalu berubah penuh tantangan.


Tentu menjadi pertanyaan, bagaimana bisa bertahan hingga generasi ke-17? Ya, tak banyak perusahaan keluarga yang mampu bertahan, bahkan biasanya keok pada generasi ketiga atau keempat.

Coba deh bandingkan cerita di sekitar kita, manakala ada perusahaan keluarga yang besar, kerap muncul pemeo: "Sang ayah mendirikan dan membangun perusahaan, sang anak membesarkan dan menikmati perusahaan, dan sang cucu menghabiskan dan membangkrutkan perusahaan."

Namun, Toraya telah memberi pelajaran berguna. Perusahaan keluarga itu bertahan tidak hanya tujuh turunan, seperti sering orang di sekitar kita bilang, tetapi bahkan sudah langgeng sampai 17 turunan.

Dan tidak seperti perusahaan modern seperti sekarang yang sensitif terhadap krisis, lalu selamat setelah mendapatkan dana talangan dari pemerintah. Namun yang satu ini tidak. Murni karena gaya manajemen, dan ini berkat satu hal: kekhasan yang diwariskan.

Ada aturan tak tertulis yang berlaku pada perusahaan yang didirikan Enchû Kurokawa pada tahun 1690-an itu. Ya, jangan kira salah ketik, itu adalah abad ke-17.

Di antara keluarga pendiri, yang boleh masuk ke perusahaan hanya satu anak dalam satu generasi. "Ini yang membuat perusahaan berumur panjang," ujar Mitsuhiro.

Tentu, ini adalah pencapaian yang unik. Lantas, apa kata kuncinya? Filosofi yang kuat dan konsistensi pada prinsip dan aturan main, sekalipun tidak dibuat secara tertulis.

Saya sependapat dengan prinsip manajemen yang dijelaskan Mitsuhiro itu. Filosofi yang kuat dan konsistensi pada aturan main menjadi penentu keberhasilan banyak perusahaan dan organisasi.

Implikasinya tentu bagi pelanggan. Saat ini, sekadar contoh, kendati kebanyakan produk diproses melalui teknologi canggih, metode tradisional tetap dipakai untuk membuat Wagashi, sehingga setiap kue didisain berdasarkan hasil karya orisinil. Bahkan beberapa penganan tetap dibuat berdasarkan proses hand made alas buatan tangan.

Menurut Mitsuhiro, inilah yang membuat Toraya langgeng. Prinsip manajemen satu frase sejak lama diterapkan oleh perusahaan: membuat Wagashi yang lezat dan dapat dimakan dengan menyenangkan.

Artinya, kepada karyawan ditanamkan nilai-nilai: tidak sekadar membuat kue, tetapi melayani konsumen yang datang dengan menyenangkan agar mereka pulang dengan "perasaan hati lebih kaya".

Dengan kata lain, pembuat wagashi itu menerapkan "prinsip melayani". Prinsip dan filosofi itu kelihatannya pendek dan sederhana. Tetapi bagi kebanyakan perusahaan, implementasinya sungguh berat karena yang menjalankan adalah orang.

Jadi, kuncinya adalah bagaimana menemukan cara agar setiap orang yang ada dalam perusahaan dapat memahami, mampu meresapi, lalu sanggup menjalankan filosofi itu.

Intinya adalah, bagaimana perusahaan dapat menciptakan kekhasan, dan wa-bil khusus lagi, kekhasan yang (dapat) diwariskan.

Jika sudah bicara tentang kekhasan, yang dalam bahasa marketing modern disebut diferensiasi atau uniqness, tentu cakupannya lebih luas, karena menyangkut proses bisnis sebuah perusahaan

Bagi banyak perusahaan Jepang, kunci kekhasan yang diwariskan terletak pada aspek produksi, yang disebut monozukuri. Kesan saya dalam banyak pergaulan dengan perusahaan-perusahaan Jepang, praktik bisnis mereka memang didasari pada prinsip monozukuri yang sangat kental.

Monozukuri berarti membuat atau memproduksi. Meski memakai istilah "membuat dan memproduksi", tentu bukan sekadar membuat atau memproduksi barang, tetapi ada aspek penting yang membuat prinsip monozukuri begitu lekat bagi banyak perusahaan Jepang. Karakter yang kuat.

Coba deh Anda perhatikan jika pergi ke kota-kota di Jepang, dan melihat cendera mata apa saja. Pasti semuanya dikemas dengan menarik, dan punya citarasa yang tinggi. Bahkan untuk sekadar kemasan permen, atau kipas tangan yang terbuat dari kertas sekalipun, selalu 'didandani' dengan apik dan cantik.

Maka, cerita tentang eksitensi dan umur panjang Toraya menjadi menarik dan karena itu, 'kekhasan yang diwariskan' tersebut sengaja saya usung di kolom ini.

Tentu saja, membuat "kekhasan yang diwariskan" tak selalu membutuhkan teknologi canggih. Tak cuma butuh teknologi canggih atau intervensi mesin produksi, melainkan justru butuh intervensi ketrampilan manusia, dan ketulusan.

Ini berarti, perusahaan yang bertahan panjang, produknya disukai dan jasanya langgeng bersama konsumen, tak lepas dari kekuatan pribadi-pribadi orang-orang yang menopang jalannya perusahaan.

Merujuk Mitsuhiro, harus ada "pribadi yang kuat", yang membentuk kumpulan orang-orang, yang akan membuat perusahaan kuat.


Tetapi lagi-lagi, sekumpulan pribadi yang kuat hanya akan efektif menghasilkan organisasi kuat jika dipimpin oleh tongkat komando yang kuat pula.


Saya kok jadi ingin mengaitkan keberhasilan sebuah organisasi dengan kepemimpinan yang efektif.

Ini bukan prinsip demokrasi, tentu saja, tetapi sebenarnya lebih dekat dengan totalitarian: Toraya tidak pecah berantakan, karena filosofi dasar yang dianut, hanya ada satu orang dari setiap generasi yang memegang kepemimpinan.

Artinya, komando perusahaan hanya berasal dari satu orang. Begitu pula panutan bagi manajemen dan keluarga besar karyawan hanya merujuk pada satu pemimpin; bukan banyak pimpinan.

Namun, tetap saja diingatkan, satu hal lagi yang membuat perusahaan berjalan efektif oleh kepemimpinan efektif yang berani mengambil risiko. Lagi-lagi, nilai dasar inilah yang membuat organisasi berkembang.

"Sejarah dibuat atas dasar generasi terdahulu yang berani mengambil risiko. Tanpa ada generasi terdahulu [yang berani mengambil risiko] tak ada perkembangan seperti saat ini."

Tetapi jangan salah, sejarah tidak menjamin saat ini dan tidak menjanjikan masa depan. Eksistensi dan daya tahan mengarungi masa depan hanya akan diraih jika mau melakukan apa yang bisa dilakukan saat ini, dan tidak terus-menerus menoleh sejarah masa lalu.

Di situlah kekuatan keyakinan. Ambillah contoh lain, pemimpin negeri kecil macam Singapura, Lee Kuan Yew, telah membuktikan keyakinan yang kuat mampu mengubah segalanya. Bahkan pandangan Lee kini banyak dirujuk tidak saja oleh ahli pemerintahan, tetapi juga oleh para dedengkot manajemen.

Lee sangat yakin dengan prinsip MPH yang membuat Singapura maju, dan filosofi itu diteruskan sampai sekarang. Meritokrasi, Pragmatisme dan Honesty menjadi dasar utama bagi kemajuan Singapura: kerjakan apa saja dengan sebaik-baiknya dan penuh tanggungjawab.

Redaksi : Bisnis.co.id

Posted by INFO GeRATIS on 12.21. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0

0 comments for Toraya dan kekhasan yang diwariskan

Leave comment

GeRATIS Info meledakkan Penghasilan Anda:

Segera cek email Anda untuk mengaktifkan


Frans Ana

Phone : +6221 95800002


FOLLOW US :

2010 INFO GeRATIS. All Rights Reserved. - Written by : Frans Firdaus