Pertamina EP Berencana Kembalikan 30% Luas Wilayah Kerja ke Negara
Energy 11.37

PT Pertamina EP, anak usaha PT Pertamina (Persero), berencana mengembalikan sekitar 30% dari total luas wilayah kerja minyak dan gas ke negara. Syamsu Alam, Direktur Utama Pertamina EP, menjelaskan wilayah kerja yang akan dikembalikan adalah lapangan yang sulit untuk dikembangkan.
Berdasarkan data Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi, Pertamina EP merupakan kontraktor dengan wilayah kerja terluas. Saat ini luas wilayah kerja Pertamina seluas 138.611 kilometer persegi atau setara dengan 48% dari total wilayah kerja Indonesia.
"Kami sudah mencoba mengajak beberapa partner untuk melihat bareng. Tapi memang lokasi itu sangat high risk. Kami akan persiapkan untuk mengembalikannya ke negara karena itu akan jadi beban juga. Nanti dikira lahannya luas, tapi tidak diapa-apakan," kata Syamsu kepada IFT akhir pekan lalu.
Menurut Syamsu, wilayah kerja yang akan dikembalikan ke negara itu meliputi wilayah yang secara geologi tidak dapat dikembangkan karena berisiko tinggi, seperti di Jawa Barat bagian selatan dan Jawa Timur bagian selatan. Selain dari sisi geologi, ada juga wilayah yang secara operasional yang tidak bisa dikembangkan karena berada di pusat kota, misalnya Jakarta dan Surabaya. "Sekarang kami siapkan agar biar lebih matang," ujar dia.
Syamsu mengatakan Pertamina EP sebenarnya memiliki kewajiban untuk mengembalikan 15% dari total wilayah kerja minyak dan gas bumi yang dikelolanya ke negara. "Kalau potensinya tidak bagus, kami akan mengembalikan lebih besar dari 15%," kata dia.
Pertamina EP menurut rencana akan terus mengevaluasi rencana tersebut. Setelah evaluasi tersebut selesai, perusahaan akan segera mengajukan usulan itu ke komisaris untuk kemudian akan dibahas dalam rapat umum pemegang saham.
"Setelah dapat persetujuan dari pemegang saham, baru akan kami sampaikan ke pemerintah. Tapi kami akan evaluasi lagi untuk memastikan memang potensinya sangat kecil dan berisiko tinggi," ujarnya.
Gde Pradnyana, Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas), mengaku BP Migas belum mendengar keinginan dari Pertamina EP tersebut. Namun, masalah pengembalian wilayah kerja minyak dan gas bumi berada di Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.
Satya W Yudha, anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat, menyambut baik keputusan Pertamina EP untuk mengembalikan 30% dari total wilayah kerjanya kepada negara. Setelah dikembalikan wilayah itu bisa ditawarkan kembali ke para pelaku migas lokal dan asing.
"Menurut saya, merupakan langkah yang bijaksana secara korporasi dan memberi kesempatan ke pemain lokal dan dari luar untuk optimalkan lapangan itu," kata dia.

Produksi
Agus Amperianto, Manajer Humas Pertamina EP, mengatakan realisasi rata-rata produksi minyak perseroan hingga akhir Maret mencapai 127 ribu barel minyak per hari atau sekitar 5,6% di bawah target yang ditetapkan sebesar 134.520 barel minyak per hari. Dibandingkan target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2012 sebesar 135 ribu barel per hari, realisasi hingga akhir Maret tersebut 6% di bawah target.
Belum tercapainya target itu karena lapangan-lapangan yang menjadi andalan perseroan untuk menambah produksi, belum bisa berkontribusi secara optimal. "Kenaikan produksi dari pemboran sumur di lapangan Bunyu, Limau, dan Rantau masih belum cukup untuk menutupi tingkat penurunan produksi secara alamiah di lapangan lainnya," ujar Agus.
Pertamina EP, menurut Agus, terus berupaya meningkatkan produksi pada lapangan minyak yang dikelolanya. Hal ini dapat terlihat dari realisasi produksi minyak pada kuartal I 2012 yang lebih tinggi 3,5% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 122.682 barel per hari. Kenaikan itu berasal dari keberhasilan pemboran sumur di Bunyu, Limau, dan Rantau.
Agus mengungkapkan perseroan akan berupaya untuk meningkatkan produksi minyaknya pada kuartal II 2012 menjadi 132 ribu barel. "Kami optimistis bisa mencapainya, sesudah stabilize memperoleh gain produksi dari Rantau dan Limau serta harapan tambahan dari injeksi ASP (alkaline surfactant polymer) yang diterapkan di lapangan Tanjung pada April 2012," katanya.
Pertamina EP mengalokasikan dana sekitar US$ 3 miliar-US$ 5 miliar untuk belanja modal dan non-belanja modal sepanjang tahun ini. Dana ini berasal dari induk usaha perseroan yang digunakan untuk mendukung kegiatan eksplorasi, eksploitasi, operasi produksi, dan administrasi umum.




