Atlas Resources Alokasikan Belanja Modal US$ 71 Juta


PT Atlas Resources Tbk (ARII), emiten pertambangan batu bara, menganggarkan belanja modal (capital expenditure) tahun ini sebesar US$ 71 juta untuk investasi. Dono Boestami, Direktur tak terafiliasi Atlas Resouces, mengatakan sebagian dana untuk belanja modal berasal dari sisa dana hasil penawaran umum saham perdana (IPO) dan sebagian lagi dari pendanaan lainnya.

“Pendanaan belanja modal tahun ini yang jelas bukan dari ekuitas perusahaan, melainkan dari rencana stratgis perusahaan, tapi belum kami bisa sebutkan bentuknya," ujar Dono, Senin.

Pada IPO yang dilaksanakan November 2011, Atlas meraup dana segar dari masyarakat sekitar Rp 975 miliar dari pelepasan saham di harga Rp 1.500 yang mencerminkan rasio harga terhadap laba bersih (price to earning ratio/PER) yang disetahunkan untuk 2011 sekitar 44,76 kali. Dana hasil IPO tersebut digunakan sekitar 60% atau senilai Rp 540 miliar untuk biaya belanja modal berkaitan dengan infrastruktur dan pengembangan fasilitas penunjang wilayah izin usaha pertrambangan antara lain pembebasan lahan dan penggunaan jalan. Sisanya digunakan untuk akusisi wilayah izin usaha pertambangan tambahan, juga peningkatan kepemilikan pada anak perusahaan yang berhubungan dengan pertambangan. Hingga akhir 2011, perseroan merealisasikan 45% dana hasil IPO.

Menurut Dono, sekitar 80% belanja modal perseroan tahun ini akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur, khususnya untuk akses pembangunan jalan hingga sekitar 130 kilometer di proyek Muba di Sumatera Selatan. Terlebih saat ini tambang batu bara di Hub Muba sudah mulai berproduksi, sehingga perusahaan berniat meningkatkan pembangunan infrastruktur di lokasi tersebut.

Selain itu, dana belanja modal juga akan digunakan untuk akuisisi beberapa tambang atau perusahaan yang berada di sekitar tambang yang dimiliki perusahaan. Tahun lalu, Atlas telah menyelesaikan penambahan kepemilikan di tiga perusahaan, yaitu di PT Karya Borneo Agung, PT Bara Karya Agung, dan PT Ratna Utama Karya. Dengan demikian kepemilikan saham perseroan pada tiga perusahaan tersebut masing-masing menjadi 50,1% dari sebelumnya 20%.

“Selain tetap mengembangkan tambang yang dimiliki, ke depan perseroan tetap akan melakukan akuisisi demi pertumbuhan perusahaan. Apalagi tiga perusahaan yang baru saja dikuasi tadi masih merupakan lahan greenfield,” ujar dia.

Atlas menargetkan volume produksi batu bara tahun ini lebih tinggi dari realisasi tahun lalu sekitar 1,2 juta ton. Harga jual juga diproyeksikan lebih tinggi dibanding 2011. Tahun lalu, harga jual rata-rata batu bara perseroan sekitar US$ 75,87 per ton, naik 75% dari harga jual rata-rata 2010 yang sebesar US$ 43,49 per ton. Dono enggan menyebutkan berapa besar target kenaikan volume dan harga jual tersebut.

Volume produksi batu bara Atlas sama dengan volume penjualan. Sekitar 70% batu bara perseroan diekspor ke sejumlah neagra, yaitu Korea Selatan, China, Taiwan, dan Jepang. Ke depan perseroan menjajaki pengembangan pasar batu bara hingga ke India.

Sementara 30% penjualan lainnya ditujukan ke pasar domestik, antara lain ke PT PLN (Persero). Tahun ini, perseroan menandatangani kontrak jual beli dengan PLN sebesar 504 ribu ton untuk pembangkit listrik di Tarahan Baru, Lampung. “Kami memang hanya pemasok untuk PLN, belum berencana menjadi IPP (Independent Power Producer) karena kami masih fokus mengembangkan tambang-tambang yang ada," kata dia.

Pada penutupan perdagangan Senin harga saham Atlas Resources ditutup stagnan di level Rp 1.400 per saham.

Selain Atlas, sejumlah emiten batu bara tahun ini menganggarkan belanja modal yang lebih besar dibandingkan tahun lalu. Peningkatan tersebut untuk menunjang rencana ekspansi, baik secara organik maupun anorganik. PT Bukit Asam Tbk (PTBA), badan usaha milik negara di bidang pertambangan batu bara, tahun ini menganggarkan belanja modal Rp 1,7 triliun, naik 30,7% dari realisasi belanja tahun lalu sebesar Rp 1,3 triliun.

Milawarma, Direktur Utama Bukit Asam, mengatakan belanja modal dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur dan peningkatan produksi, tidak termasuk untuk kebutuhan akuisisi. "Belanja modal akan dipenuhi dari kas. Saat ini perseroan memiliki kas sekitar Rp 7 triliun," ujarnya.

Bukit Asam menargetkan produksi tahun ini mencapai 16 juta ton dan penjualan 18 juta ton. Tahun lalu, produksi diperkirakan mencapai 15 juta ton dengan penjualan sekitar 16 juta ton.

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), perusahaan batu bara terbesar keempat dari sisi produksi, memperkirakan belanja modal tahun ini menjadi US$ 220 juta akibat rendahnya realisasi belanja tahun lalu. Belanja modal itu dialokasikan untuk pengembangan sejumlah tambang dalam rangka meningkatkan penjualan menjadi 27 juta ton. Indo Tambangraya tahun lalu mengalokasikan belanja modal US$ 126 juta, namun realisasinya diperkirakan hanya US$ 60 juta. (indonesiafinancetoday.com)

Posted by INFO GeRATIS on 11.32. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0

0 comments for Atlas Resources Alokasikan Belanja Modal US$ 71 Juta

Leave comment

GeRATIS Info meledakkan Penghasilan Anda:

Segera cek email Anda untuk mengaktifkan


Frans Ana

Phone : +6221 95800002


FOLLOW US :

2010 INFO GeRATIS. All Rights Reserved. - Written by : Frans Firdaus