Saatnya Mengakhiri Mandat Ganda Federal Reserve
Breaking News 11.26
Ada satu prediksi yang bisa dibuat mengenai keputusan bahwa Mahkamah Agung akan mengesahkan Undang-Undang Layanan Kesehatan Terjangkau. Suara final hampir dipastikan sesuai dengan arahan partai.
Politisasi progresif di Mahkamah Agung pada beberapa tahun belakangan adalah reaksi alami terhadap peran aktivis yang menguat. Karena keadilan mempengaruhi hal-hal yang biasanya termasuk dalam wewenang pejabat terpilih – seperti hak aborsi – lembaga politik membalas dengan menjadikan ortodoksi ideologis sebagai persyaratan bagi penunjukkan hakim Mahkamah Agung.
Yang lebih buruk adalah dinamika serupa kini terjadi di lembaga penting Amerika Serikat lainnya, yaitu Dewan Gubernur Federal Reserve. Pada Juni 2011, Peter Diamond, peraih Nobel Ekonomi, dipaksa menarik pencalonannya karena penolakan Republik di Senat. Benar, kepakarannya bukan di bidang kebijakan moneter, namun apakah dia benar-benar tidak layak?
Politisasi Federal Reserve sudah mencapai puncaknya pada beberapa hari belakangan, setidaknya ada seorang senator yang mengatakan akan menghalangi penunjukkan dua anggota dewan baru (satu dari Republik dan lainnya dari Demokrat).
Saya tidak kenal Jerome Powell (calon dari Republik), namun saya kenal baik Jeremy Stein (calon dari Demokrat). Meskipun saya tidak sepakat mengenai banyak hal dengannya, saya tidak bisa membayangkan ada calon lain yang lebih bijaksana, lebih kompeten dan independen selain dia untuk menjabat di Federal Reserve. Jadi mengapa penominasiannya berisiko dibatalkan?
Sudah biasa menyalahkan kelompok konservatif atas kebuntuan ini, yang membingungkan antara sebab dan akibat. Kebenarannya adalah sikap anti-Fed dari banyak anggota Republik adalah sekedar reaksi politik terhadap intervensi terhadap bank sentral, yang pada dekade belakangan sudah melewati batas.
Pelajaran dari inflasi pada 1970-an adalah bahwa bank sentral harus independen dari proses politik dalam menentukan kebijakan moneter. Seperti yang kita lihat kemudian, pejabat terpilih terlalu sering menekankan kebijakan perbaikan pasar tenaga kerja dengan mengorbankan laju inflasi. Untuk itu, diperlukan para gubernur bank sentral membuat keputusan bebas dari tekanan politik.
Pelajaran terpisah dari Great Depression, seperti yang diajarkan oleh Milton Friedman dan Anna Jacobson Schwartz, adalah bahwa kesalahan kebijakan moneter bisa sangat merugikan. Untuk itu, diperlukan dewan gubernur bank sentral yang sangat kompeten.
Namun dalam sebuah demokrasi, sebuah lembaga bisa independen hanya sepanjang tidak berhubungan dengan keputusan politik penting, khususnya dengan dampak redistribusi yang besar. Mendelegasikan keputusan politik kepada badan teknokrat independen sesuai dengan model tata kelola pemerintahan di China dibanding di Amerika Serikat.
Kita tidak menginginkan sebuah dewan gubernur independen menentukan seperangkat aturan pajak atau prioritas belanja pemerintah. Namun itulah yang benar-benar telah dilakukan Federal Reserve selama 10 tahun belakangan.
Kebijakan suku bunga rendah dalam jangka panjang adalah pajak bagi deposan, kebijakan yang tidak melalui pemungutan suara di Kongres. Bantuan keuangan bagi Bear Stearns Co dan Citigroup Inc adalah subsidi bagi bank-bank yang tidak pernah disetujui dalam proses politik. Yang terbaru, program quantitative easing tahap kedua dari Federal Reserve adalah hadiah bagi debitor kaya dengan peringkat kredit baik, dengan mengorbankan kelompok masyarakat yang sangat membutuhkan.
Semua intervensi ini merupakan kebijakan yang direncanakan dan beberapa kebijakan menguntungkan bagi perekonomian. Namun begitu juga dengan keputusan pemimpin China yang tidak sesuai legitimasi dalam sebuah sistem demokrasi.
Selamatkan Fed
Mungkin sekarang sudah terlambat untuk membalik politisasi di Mahkamah Agung, namun Kongres masih bisa menggunakan wewenangnya untuk menyelamatkan Federal Reserve, contohnya dengan mengesahkan undang-undang yang meredam aktivisme bank sentral.
Langkah pertama seharusnya menghapuskan mandat ganda. Tidak seperti European Central Bank, yang berwenang menjaga stabilitas harga, Federal Reserve mempunyai dua mandat, yaitu meningkatkan penyerapan tenaga kerja serta menjaga stabilitas harga.
Mandat ganda ini memberi Federal Reserve fleksibilitas yang terlalu besar, menjadikannya sebagai pengganti pemerintah dalam merancang kebijakan ekonomi. Godaan untuk melakukan intervensi sangat kuat ketika Kongres mengalami polarisasi dan lemah. Peran yang besar inilah yang menjadikan Federal Reserve rentan terhadap politisasi. Bank sentral bisa menjadi independen atau menjadi aktivis. Namun menjadi independen merupakan pilihan yang lebih baik. (indonesiafinancetoday.com)
Artikel asli berjudul: End Double Mandate to Save Fed’s Independence
Luigi Zingales
Bloomberg News




