Bank Dunia Perkirakan FDI Turun

Bank Dunia memperkirakan foreign direct investment (FDI) atau aliran modal asing langsung tahun ini lebih rendah dibandingkan tahun lalu. Laporan Bank Dunia bertajuk Perkembangan Triwulanan Perekonomian Indonesia: Mengarahkan Kembali Belanja Publik menyebutkan aliran modal asing langsung tahun ini US$ 9,3 miliar, lebih rendah dibandingkan tahun lalu US$ 10,4 miliar.

Menurut Bank Dunia, pada dasarnya aliran modal asing ke Indonesia diperkirakan akan tetap kuat. Selain kaya sumber daya alam, pasar dalam negeri dan tenaga kerja yang relatif masih murah dinilai menjadi pendorong besarnya aliran modal asing langsung ke Indonesia.

Di sisi lain, Bank Dunia memprediksi aliran modal dalam bentuk portofolio tahun ini akan lebih besar dibandingkan tahun lalu. Aliran modal dalam bentuk portofolio diperkirakan mencapai US$ 7,8 miliar, jauh lebih besar dibandingkan tahun lalu sebesar US$ 4,2 miliar.

Namun, dalam laporannya Bank Dunia memperingatkan aliran modal akan bergantung dengan persepsi investor dalam melihat risiko fiskal karena harga minyak terus meningkat. Selain itu, masih ada ketidakpastian kebijakan harga bahan bakar bersubsidi dan risiko inflasi yang menyertainya.

Lana Soelistianingsih, Kepala Ekonom PT Samuel Sekuritas Indonesia, mengatakan jika melihat perkembangan ekonomi global dan isu perekonomian domestik, aliran modal asing langsung diperkirakan akan tetap lebih besar dibandingkan modal dalam bentuk portofolio. "Pada portofolio akan terpengaruh kebijakan kenaikan harga bahan bakar dan menunggu Standard & Poor's (S&P) menaikkan peringkat utang kita menjadi investment grade,” kata Lana.

Juniman, Kepala Ekonom PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII), memperkirakan aliran modal langsung tahun ini lebih besar dibandingkan tahun lalu yang mencapai Rp 251,3 triliun. Dari jumlah tersebut, Rp 175,3 triliun di antaranya merupakan aliran modal asing langsung. Tim ekonom Bank Internasional Indonesia memperkirakan aliran modal langsung mencapai Rp 370 triliun. Dari jumlah tersebut, 70% di antaranya berupa aliran modal asing langsung.

Penundaan kebijakan kenaikan bahan bakar minyak bersubsidi akan berdampak langsung terhadap investasi dalam bentuk portofolio. "Pada bond market, misalnya, kepemilikan asing sejak Februari tidak naik-naik, hanya di sekitar Rp 255 triliun. Di pasar saham dan obligasi, investor asing wait and see," kata Juniman.

Namun, investor asing baik yang berinvestasi langsung maupun portofolio akan tetap menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara tujuan investasi. Menurut Juniman, jika semakin banyak perusahaan Indonesia yang melakukan penawaran saham perdana (IPO), dapat mendorong arus modal asing lebih besar lagi. "Secara keseluruhan kami memperkirakan capital inflow tahun ini akan mencapai US$ 7 miliar," kata Juniman.

Latif Adam, Peneliti Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan aliran modal asing langsung yang masuk Indonesia akan semakin besar jika pemerintah mampu secepatnya menyelesaikan permasalahan penyediaan lahan pada proyek-proyek infrastruktur. Selain itu, pemerintah harus mampu menjaga kestabilan ekonomi makro dan memberikan kepastian hukum.

Menurut Latif, baik investasi portofolio maupun investasi asing langsung berpotensi mengalami pelemahan. Tim ekonom Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menilai potensi menurunnya aliran modal yang masuk ke Indonesia terutama karena batalnya pelaksanaan kenaikan harga bahan bakar bersubsidi pada 1 April dan tidak adanya kepastian waktu kapan harga bahan bakar minyak akan dinaikkan.

Azhar Lubis, Deputi Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal, mengatakan pemerintah tetap optimistis aliran modal langsung tahun ini akan mencapai Rp 290 triliun dengan 60% di antaranya berupa investasi asing langsung. "Apa yang masih kurang, pemerintah berupaya menyediakan sarana seperti jalan dan listrik," kata Azhar.

Selain itu, pemerintah terus berupaya mengurangi ekonomi biaya tinggi baik yang terjadi di pelayanan pemerintah pusat maupun di daerah. "Kami optimistis, investasi langsung akan terus masuk, misalnya pada kuartal I, realisasi investasi langsung Rp 65 triliun," kata Azhar.

Rahmat Waluyanto, Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan, mengatakan aliran modal ke emerging market termasuk Indonesia, masih cukup besar. Pemerintah menilai fundamental ekonomi Indonesia yang masih bagus menjadi daya tarik bagi investor. (indonesiafinancetoday.com)

Posted by INFO GeRATIS on 11.16. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0

0 comments for Bank Dunia Perkirakan FDI Turun

Leave comment

GeRATIS Info meledakkan Penghasilan Anda:

Segera cek email Anda untuk mengaktifkan


Frans Ana

Phone : +6221 95800002


FOLLOW US :

2010 INFO GeRATIS. All Rights Reserved. - Written by : Frans Firdaus