Cadangan Devisa Turun Signifikan
Breaking News 10.22
Nurul Eti Nurbaeti, Head of Research Treasury Division PT BNI Tbk (BBNI), memperkirakan dalam jangka pendek dan menengah Bank Indonesia akan menjaga nilai tukar rupiah di kisaran Rp 9.200 per dolar AS. Level ini dianggap nyaman dengan keyakinan bank sentral memiliki cadangan devisa cukup besar untuk menjaga stabilitas rupiah. “Level itu dianggap batas psikologis oleh bank sentral,” ujar Nurul.
Rupiah menurut kurs tengah Bank Indonesia pada Senin melemah ke level Rp 9.168 per dolar AS dibanding penutupan akhir pekan lalu Rp 9.159. Pekan lalu, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp 9.145–Rp 9.163 per dolar AS.
Sepanjang kuartal I, Bank Indonesia mengeluarkan dana rata-rata Rp 350 triliun per bulan untuk menggelar operasi pasar terbuka. Sepanjang Maret 2012, bank sentral mengeluarkan Rp 359,3 triliun untuk operasi pasar yang mencakup seluruh instrumen moneter seperti Sertifikat Bank Indonesia, term deposit, termasuk rupiah. Jumlah ini naik tipis dibandingkan Februari Rp 352,8 triliun.
Nurul mengatakan pelemahan rupiah sepekan terakhir dipengaruhi kondisi pasar yang relatif sepi transaksi karena libur Paskah di bursa luar negeri. Hal ini membuat capital inflow tertahan sehingga likuiditas valuta asing cenderung tipis dan rupiah melemah.
Pelaku pasar juga menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang akan mengumumkan suku bunga acuan BI Rate pada Kamis ini. Namun, ia memperkirakan bank sentral akan tetap menahan BI Rate di level 5,75% dengan mempertimbangkan kondisi makro ekonomi yang relatif stabil dan real interest rate yang cukup menarik bagi investor.
Juniman, Kepala Ekonom PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII), mengatakan nilai tukar rupiah sulit menguat ke posisi Rp 9.100 per dolar AS. Dalam revisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2012 nilai tukar rupiah ditetapkan Rp 9.000 per dolar AS.
Menurut tim ekonom BII, hingga Juli tahun ini nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga Rp 9.130-Rp 9.230 per dolar AS. Hal tersebut disebabkan tidak adanya kepastian waktu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan inflasi yang merupakan risiko dari dalam negeri.
Lana Soelistianingsih, Kepala Ekonom PT Samuel Sekuritas Indonesia, memperkirakan nilai tukar rupiah tahun ini berada di kisaran Rp 9.100-Rp 9.200 per dolar AS. “Jika pemerintah tidak menaikkan harga BBM bersubsidi, inflasi tahun ini 6,5%. Namun, jika harga BBM bersubsidi naik, inflasi akan mencapai 7,6%,” kata Lana. Inflasi akan turun ke level 7% setelah harga-harga mengalami penyesuaian.

Kebijakan Khusus
Darmin Nasution, Gubernur Bank Indonesia, sebelumnya mengatakan bank sentral memiliki kebijakan khusus menyeimbangkan rupiah dan BI Rate agar sejalan dengan inflasi. “Solusinya banyak, bisa kombinasi,” jelas Darmin.
Tanpa kenaikan harga BBM bersubsidi, inflasi akan terkendali di level rendah. Jika BI memilih kebijakan nilai tukar tetap, tingkat BI Rate kemungkinan akan lebih rendah. Sebaliknya jika tingkat BI Rate dinaikkan, nilai tukar rupiah akan cenderung melemah meskipun tidak banyak. “Penundaan kenaikan BBM dapat menahan kenaikan inflasi sehingga tekanan moneter dua arah untuk mempertahankan suku bunga ataupun mempertahankan nilai tukar rupiah menjadi berkurang,” kata Darmin.
Sementara itu, tim ekonom PT Mandiri Sekuritas memperkirakan harga pangan dalam beberapa bulan ke depan akan turun, meskipun Indeks Harga Pangan Food Agricultural Organization (FAO) meningkat. Menurut Aldian Taloputra, Ekonom Mandiri Sekuritas, potensi penurunan harga karena pasokan makanan di masyarakat tercukupi karena musim panen.
Menurutnya, potensi peningkatan inflasi tahun ini lebih dipengaruhi adanya kekhawatiran terhadap kenaikan harga BBM bersubsidi. “Tidak jelas kapan kenaikan harga akan dilakukan, menimbulkan ekspektasi sehingga inflasi tinggi bukan cerminan dari harga pangan, tetapi risiko dari harga bahan bakar,” kata Aldian.
Jika harga BBM bersubsidi naik, inflasi akan meningkat dan rupiah akan melemah mulai pertengahan tahun 2012 hingga akhir kuartal III 2012. Pelemahan rupiah disebabkan impor mengalami kenaikan sehingga surplus neraca perdagangan sedikit menurun dan capital outflow seperti tahun lalu.
Anton Hermanto Gunawan, Kepala Ekonom PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BMDN), mengatakan rupiah akan mencapai Rp 9.300 per dolar AS jika investor asing di pasar obligasi keluar. Saat ini Bank Danamon masih mempertahankan prediksi rupiah menguat di akhir tahun ke level Rp 8.950 per dolar AS. Namun, dengan risiko ke depan rupiah bisa berada di level Rp 9.100 per dolar AS. (indonesiafinancetoday.com)




