Tekanan Inflasi Mengkawatirkan

Anggota Komisi XI DPR, Kemal Azis Stamboel mengingatkan agar pemerintah, Bank Indonesia (BI) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) secara serius mengambil kebijakan untuk mengendalikan inflasi.

“Kita melihat tekanan inflasi beberapa bulan terakhir semakin tinggi dan mengkhawatirkan. Maret dan April tahun 2011 lalu kita deflasi, tetapi sekarang tidak terjadi lagi. Pada April 2012 terjadi inflasi sebesar 0,21% sedangkan April 2011 terjadi deflasi sebesar 0,31%. Sehingga laju inflasi Januari–April 2012 sebesar 1,09% jauh lebih tinggi dari laju inflasi Januari-April 2011 sebesar 0,39%. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, sehingga harus ada upaya pengendalian yang serius”, ujar Kemal, dalam keterangannya, di Jakarta, Minggu, 6 Mei 2012.

Menurut Kemal, ekspektasi inflasi yang tinggi sebelumnya seharusnya sekarang sudah bisa diredam setelah pemerintah memberikan kepastian terkait kebijakan BBM Bersubsidi.

“Karena kenaikan harga BBM Bersubisdi tidak terjadi dan kemungkinannya kecil, serta pembatasan BBM Bersubisidi telah ditetapkan hanya untuk birokrasi pemerintah dan BUMN/BUMD, maka sudah seharusnya tidak ada lagi spekulasi terkait hal ini. Kenaikan harga-harga barang harus diredam”, tegasnya.

Kemal mengingatkan bahwa keberhasilan pengendalian inflasi pada 2011 lalu secara umum merupakan kontribusi penting dari kedisiplinan Bank Indonesia, Pemerintah, TPID dan juga dukungan ekspektasi dari masyarakat.

“Tahun lalu kita bisa mendorong inflasi sangat rendah, 3,79%. Keberhasilan tahun lalu harus kita jadikan contoh agar bisa berkelanjutan, sehingga inflasi tahun ini juga bisa rendah. Koordinasi pemerintah, Bank Indonesia dan TPID menjadi penting untuk diintensifkan kembali dengan dukungan kebijakan pengendalian yang kredibel,” jelasnya.

Kemal menambahkan, BI bisa menurunkan BI Rate atau menjaganya untuk tetap, sehingga sinyal target inflasi juga terlihat semakin jelas ke pasar. Pemerintah dan TPID perlu mendorong operasi pasar dan edukasi publik terkait arah inflasi tahun ini yang lebih clear.

Kemal juga mengingkatkan tekanan inflasi ke depan masih akan tinggi di antaranya dari tekanan harga pangan (terutama harga beras dan bumbu-bumbuan), biaya distribusi yang masih tinggi, dan karena faktor musiman.

“Berbagai tekanan ini harus terus diwaspadai dan di-manage secara baik. Apalagi pada Mei-Agustus diprediksi terjadi kenaikan harga seusai panen raya. Kedepan kita juga segera menghadapi masa awal masuk sekolah, awal Ramadhan, dan Idul Fitri. Tekanan inflasi akan semakin tinggi, ini harus diantisipasi secara serius. Manajemen persediaan, terutama untuk beras dan distribusi kebutuhan pokok mutlak dibutuhkan. Bulog, Kemendag dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) harus bekerja ekstra”, imbuhnya.

Terkait biaya distribusi yang masih tinggi yang mendorong inflasi, pemerintah perlu serius memperbaiki infrastruktur. Demikian juga penurunan suku bunga kredit menjadi sangat penting untuk meredam biaya dana untuk kegiatan produksi.

Ini sangat penting karena, inflasi kita juga akibat high cost economy akibat kurang memadainya infrastruktur dan mahalnya biaya modal. Suku bunga kredit diharapkan bisa kembali turun.

“Kalau ini bisa diperbaiki akan menjadi pijakan penting untuk bisa membuat inflasi relatif rendah tahun ini dibawah 5%”, tandas Anggota DPR dari FPKS ini.


Redaksi : InfoBankNews.com

Posted by INFO GeRATIS on 07.23. Filed under . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0

0 comments for Tekanan Inflasi Mengkawatirkan

Leave comment

GeRATIS Info meledakkan Penghasilan Anda:

Segera cek email Anda untuk mengaktifkan


Frans Ana

Phone : +6221 95800002


FOLLOW US :

2010 INFO GeRATIS. All Rights Reserved. - Written by : Frans Firdaus